Empat Strategi Dendi Jadikan Pertanian Sektor Unggulan Pesawaran
Dwi Des Saputra
Pesawaran
"Petani milenial dapat menjual hasil tanaman hidroponik dengan digitalisasi saluran pemasaran, bekerjasama dengan berbagai petani hidroponik lainnya. Hal ini akan menambah penghasilan petani millenal," ujar dia.
Ketiga, budidaya tanaman jenis baru yakni Porang. Potensi ini seharusnya dapat dijadikan sebagai peluang petani modern. Namun, tentunya dibutuhkan teknologi yang dapat mengelola porang dengan tepat dan higienis
Keempat, memanfaatkan tanaman buah untuk dijadikan tempat agrowisata. Potensi buah ini menjadikan dua sisi mata uang. Pertama sisi hasil buah yang dapat dijual ke pasar dan kedua dapat dijadikan kawasan agrowisata.
"Seperti agrowisata melon dan jeruk di Kecamatan Negeri Katon, Tegineneng, dan Teluk Pandan," ungkap Dendi.
Bank Harus Beri Kemudahan Permodalan
Selain itu, sektor kemudahan permodalan juga sangat dibutuhkan para petani. Bank-bank nasional dan lokal seperti BRI, BNI, dan Bank Lampung harus memberi dukungan dengan mengucurkan kredit usaha rakyat (KUR).
Dendi berharap pandemi jangan dijadikan sebagai musibah. Justru pertanian adalah sektor yang memiliki peluang terbesar.
"Tanaman yang paling rasional saat ini adalah buah-buahan. Tentunya dengan sentuhan kreatifitas, menjaga stabilitas harga, dan menyediakan saluran pemasaran dengan konsep digitali," ujar dia.
Selain itu, Kecamatan Tegineneng bisa dijadikan kawasan industri pertanian yang jelas sangat mendukung pertanian Pesawaran. Apalagi Presiden RI Joko Widodo telah mencanangkan kawasan tersebut sebagai zona industri pertanian.
"Adanya kawasan ini, nantinya komoditi seperti jagung tidak lagi dimonopoli. Perusahaan pengelola singkong juga akan masuk, tentunya akan menjadikan harga semakin kompetitif. Mohon doanya agar kawasan ini cepat terwujud. Jangan lupa harus tetap menjaga prokes karena pandemi ini belum berakhir, jaga diri jaga keluarga dari pandemi," pungkasnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
