Peta Jalan Pendidikan Islam dan Desain Masa Depan Peradaban

Fi fita

Fi fita

Bandar Lampung

30 Desember 2025 19:06 WIB
Perspektif | Rilis ID
Rektor UIN RIL Prof Wan Jamaluddin. Foto: istimewa
Rilis ID
Rektor UIN RIL Prof Wan Jamaluddin. Foto: istimewa

Kurikulum ini juga menumbuhkan sikap memaafkan, solidaritas, dan semangat membangun komunitas belajar yang inklusif.

Pendidikan yang kehilangan dimensi cinta berisiko melahirkan individu yang unggul secara teknis, tetapi miskin kepekaan moral dan sosial, sehingga gagal membentuk manusia yang utuh dan berkepribadian matang.

Kelima, Kejelasan Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pendidikan.

Menteri Agama menekankan bahwa pendidikan Islam harus dibangun di atas landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang jelas. Secara ontologis, pendidikan perlu menjawab hakikat realitas dan manusia yang dipelajari.

Secara epistemologis, pendidikan harus menjelaskan bagaimana pengetahuan diperoleh, diuji, dan dipertanggungjawabkan.

Secara aksiologis, pendidikan harus memastikan bahwa ilmu digunakan untuk tujuan yang bernilai dan bermakna.

Tanpa kejelasan ketiga landasan ini, pendidikan Islam berisiko kehilangan arah, terjebak pada rutinitas teknis, dan terlepas dari tujuan moral yang seharusnya diemban.

Keenam, Kerja Intelektual dan Implementatif Secara Simultan.

Pengembangan pendidikan Islam tidak cukup dilakukan pada tataran gagasan, tetapi harus berjalan seiring dengan praktik nyata dalam kehidupan sosial.

Oleh karena itu, kerja intelektual-konseptual harus berjalan beriringan dengan kerja implementatif.

Menampilkan halaman 8 dari 9

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Agus Pamintaher
Tag :

Uin ril

universitas Islam Negeri lampung

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya