Jalan Pulang Ken Setiawan: Dulu Radikal Kini Penyebar Virus Cinta
Tampan Fernando
Bandar Lampung
“Saya bilang, saya nggak mau ketemu pendeta. Tapi pelan-pelan saya coba. Bertemu pemeluk kepercayaan Nusantara juga. Dari situ saya mulai terbuka,” ungkapnya.
Dari situ pula ia menyadari: keberagaman adalah keindahan. Ia tidak lagi merasa paling benar.
“Ternyata orang dari mana saja bisa jadi teman dan saudara. Kita tak harus berdebat terus. Ada persamaan yang lebih penting dari perbedaan,” katanya.
Kini, Ken Setiawan meyakini bahwa Tuhan itu satu. Pemikiran itu ia tuangkan dalam buku terbarunya: Tuhan Kita Sama. Radikalisme dalam dirinya telah gugur. Ia kini aktif sebagai pembicara di seminar lintas agama dan pendiri NII Crisis Center—pusat rehabilitasi mantan anggota NII yang telah dibentuk sejak 2004.
“Tuhan itu satu. Yang menciptkan orang Islam, Kristen, Hindu, Budha itu Tuhan yang sama. Tapi setiap agama dan peradaban menyebutnya dengan istilah berbeda-beda. Sekarang tugas kita adalah berlomba-lomba dalam kebaikan,” pesannya.
Ancaman dalam Genggaman
Meski tak pernah terlibat aksi teror seperti bom atau penyerangan, Ken tak keberatan disebut sebagai mantan teroris. Ia mengakui kegiatannya bersama para anggota NII lainnya kala itu memang menimbulkan teror di kalangan masyarakat.
“Awalnya nggak menerima, tapi sekarang menyadari, karena teror itu adalah sesuatu yang menakuti Masyarakat,” kata dia.
“Kami merekrut orang membuat mereka fanatik berlebihan. Bicara teroris, NII juga masuk Daftar Terduga Teroris DTT dan organisasi teroris,” tegasnya.
Menurutnya, radikalisme bermula dari intoleransi. Seseorang yang merasa paling benar dan menolak perbedaan, tinggal selangkah lagi menjadi teroris.
Ken Setiawan
NII
mantan teroris
FKPT Lampung
BNPT
Tampan Fernando
jalan tobat
terorisme
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
