Jalan Pulang Ken Setiawan: Dulu Radikal Kini Penyebar Virus Cinta
Tampan Fernando
Bandar Lampung
“Seseorang tidak ujuk-ujuk jadi pelaku teror. Intoleran dulu, merasa paling benar, yang lain salah dan layak dibunuh. Ketika dia tidak mendapat arahan akan naik level jadi radikal,” jelasnya.
Seseorang yang radikal dan bergabung dengan kelompok teroris, hanya tinggal menunggu waktu untuk beraksi. Karena itu, Ken terus menyuarakan pentingnya program deradikalisasi—mengembalikan mereka yang tersesat kembali ke pelukan NKRI.
Namun tantangan baru muncul di era digital. Radikalisme kini tak lagi menyebar lewat pertemuan-pertemuan rahasia, tapi lewat ponsel dan media sosial.
“Ancaman itu sekarang ada dalam genggaman. Maka kita harus tabayun, jangan menelan mentah-mentah informasi. Intoleransi itu seperti virus. Bisa menyerang siapa saja—tanpa pandang usia, pendidikan, bahkan profesi,” katanya.
Yang lebih berbahaya, kata dia, mereka yang terpapar virus intoleran tanpa gejala alias OTG. Merasa merasa sudah nasional, sudah NKRI, tapi di dalam hatinya menolak keberagaman, mengkafirkan yang tidak seagama.
Ia menyebut segala perbedaan yang ada di muka bumi ini adalah anugrah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, agar seluruh ciptaannya dapat saling mengenal dan memahami.
Di akhir perbincangan, Ken menyampaikan satu pesan: tetap waspada terhadap terorisme, tapi jangan sampai takut belajar agama.
“Jangan sampai isu terorisme membuat orang tua melarang anaknya belajar agama. Itu bisa menimbulkan masalah baru. Ketika anak jauh dari agama, justru bisa terjebak pada pergaulan bebas, narkoba, dan lain-lain,” tutupnya. (*)
Ken Setiawan
NII
mantan teroris
FKPT Lampung
BNPT
Tampan Fernando
jalan tobat
terorisme
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
