Jalan Pulang Ken Setiawan: Dulu Radikal Kini Penyebar Virus Cinta
Tampan Fernando
Bandar Lampung
“Mereka berusaha merasionalisasi kitab suci. Islam bukan cuma soal spiritual, tapi juga mengatur peradaban dan bernegara,” jelasnya, yang kini menjadi anggota Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Lampung.
Namun seiring waktu, ia mulai melihat sisi gelap organisasi itu. Ada praktik korupsi, pencucian uang, bahkan perampokan. Harta anggota diserahkan ke pimpinan. Anggota diminta meninggalkan pekerjaan, pendidikan, dan keluarga.
“NII itu menerapkan konsep zakat, jadi harta jemaah bisa diambil oleh pimpinan hingga akhirnya melampau batas. Ada korupsi, ada money laundry juga,” ungkapnya.
Yang lebih mengerikan, beberapa anggota perempuan terpaksa jadi pelacur demi mengumpulkan dana. Ada juga yang merampok rumah-rumah orang kaya, terutama non-Muslim, dengan dalih harta mereka halal.
“Mereka menghalalkan segala cara. Bahkan mencuri dari orang tua sendiri dianggap bagian dari infaq. Ada yang sampai menjual diri, dan menjual bayinya juga ada,” katanya.
Salah satu modusnya: perempuan NII disiapkan sebagai pembantu rumah tangga dengan identitas palsu, untuk menyusup ke rumah-rumah mewah. Ketika majikan pergi, mereka menguras isi rumah.
“Harta orang kafir dianggap harta rampasan perang,” ujarnya lirih.
Penyimpangan-penyimpangan itu mulai menggoyahkan hatinya. Tapi di NII, bertanya dilarang. Anggota dituntut taat tanpa banyak bicara.
Namun suara hatinya tak bisa dibungkam terus. Hingga suatu hari, ternyata seorang sahabat Ken juga merasakan kegusaran yang sama dan berkata: “Kita harus keluar dari sini. Perjuangan kita sudah melenceng.”
Kata-kata itu membekas. Ken mulai diam-diam bertemu mantan anggota NII yang telah tobat. Ia juga menghadiri seminar lintas agama—meski awalnya menolak.
Ken Setiawan
NII
mantan teroris
FKPT Lampung
BNPT
Tampan Fernando
jalan tobat
terorisme
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
