Jalan Pulang Ken Setiawan: Dulu Radikal Kini Penyebar Virus Cinta
Tampan Fernando
Bandar Lampung
“Karena sudah tengah malam, teman bilang daerah situ rawan. Dia tawarkan ikut ke tempat teman-temannya. Saya pikir itu niat baik, jadi saya ikut,” kenangnya.
Awalnya biasa saja. Keesokan paginya, ia mendapati tempat itu dipenuhi orang-orang yang mendalami ajaran agama. Sebagai santri, Ken pun tertarik mengikuti diskusi mereka. Ia mulai terlibat aktif, bahkan ikut berdebat.
“Saya tertarik karena yang dibahas hal-hal yang jarang dikaji di pesantren. Bukan sekadar mengaji, tapi mengkaji,” kata Ken.
Namun, dalam banyak perdebatan itu, ia sering kalah. Kekalahan itu bukan hanya memukul harga dirinya, tapi juga membuka celah bagi ideologi NII menyusup ke dalam pikirannya.
“Fatalnya, saya kalah debat. Padahal saya besar di pesantren. Tapi bekal saya tidak cukup. Akhirnya saya memutuskan bergabung,” ujarnya.
Menjadi anggota NII bukan proses singkat. Ken menjalani tahapan tilawah, di mana calon anggota diberi doktrin bahwa sistem pemerintahan Indonesia bertentangan dengan hukum Tuhan. Lalu dilanjutkan proses taftis, yakni pernyataan siap meninggalkan segalanya—pekerjaan, keluarga, bahkan orang tua.
Setelah disumpah setia, ia harus ‘pindah negara’, melepaskan kewarganegaraan Indonesia dan menjadi ‘warga’ NII. Nama pun diganti, dan dilanjutkan pembinaan kaderisasi serta pelatihan irsyad—sebagai calon aparat organisasi.
Ken menjalani semuanya dengan semangat. Bahkan ia rela tak ikut turnamen silat demi NII.
“Saya penasaran. Saya merasa materi agama yang mereka berikan tidak saya dapatkan di sekolah maupun pesantren,” ujarnya.
Bagi Ken saat itu, NII seperti membawa semangat baru: Islam versi modern. Ia menjadi perekrut anggota terbaik dan sempat menerima piagam penghargaan dari “Bupati” dan “Gubernur” NII.
Ken Setiawan
NII
mantan teroris
FKPT Lampung
BNPT
Tampan Fernando
jalan tobat
terorisme
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
