Anak TK Usia 5 Tahun di Lampung Sudah Bisa Bikin Game, Sang Ayah Ajarkan Coding Sejak Dini
Tampan Fernando
Bandar Lampung
“Bukan hanya game, semua hobi anak-anak saya coba dukung sebisa mungkin, walaupun dengan segala keterbatasan,” ujar Ken.
Ia menyadari tantangan orang tua masa kini cukup berat, apalagi stigma negatif terhadap anak-anak yang gemar bermain game masih cukup tinggi.
“Yang penting sebagai orang tua kita harus hadir dan membimbing. Anak tetap boleh bermain, tapi harus diarahkan,” tambahnya.
Ken mengibaratkan peran orang tua seperti petani yang merawat bibit. Orang tua harus menanamkan nilai, memberi pupuk berupa kasih sayang dan bimbingan, agar anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan berprestasi.
“Dulu waktu saya kecil, usia segini mana ada HP atau laptop. Paling main kelereng, petak umpet, layangan. Tapi zaman anak-anak kita sekarang berbeda. Dunia mereka adalah dunia digital. Kita harus bisa masuk ke dunia mereka, bukan memaksa mereka masuk ke dunia kita,” ujar Ken.
Gabungkan Coding dengan Konsep Fisika
Tak hanya memperkenalkan dunia coding, Ken juga membiasakan anak-anaknya belajar konsep dasar fisika sejak dini melalui aktivitas sehari-hari.
Mulai dari bermain sepatu roda, skateboard, mobil-mobilan, hingga bereksperimen dengan air, bola, atau balok.
“Anak-anak itu rasa ingin tahunya besar. Mereka sering bertanya: ‘Ini apa? Gunanya apa? Cara pakainya gimana?’ Kita sebagai orang tua harus bisa menjawab dengan sabar dan logis,” jelas Ken.
Ia percaya pengenalan fisika sejak dini penting agar anak-anak belajar berpikir kritis dan rasional.
Anak TK
coding
bermain game
membuat game.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
