Suburkan Filantrofi di Masa Pandemi
lampung@rilis.id
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung
— KEPILUAN pandemi terdengar lirih di seantero negeri. Tak terkecuali warga sang bumi ruwa jurai, turut mengalami.
Layar sentuh persegi, mengabarkan kesulitan itu setiap hari. Mulai nafkah yang sulit dicari, atau usaha kecil yang terpaksa terhenti.
Belum lagi cerita duafa yang lirih berduka, atau anak-anak yatim yang menyendiri nelangsa.
Sungguh ada tanggung jawab sosial kita di sana. Yah... walau hanya menutup luka, belum sanggup menyelesaikan derita, yang kini menganga!
Tengoklah di ujung jalan penuh deru, anak duafa menggurat kisah pilu, bersama wajah-wajah sendu, semangat yang lama membeku, terngiang orang tua terkubur terbujur kaku.
Tengok pula di pojok rumah-rumah, ada keluarga menghamba nafkah, sambil mengenang sang ayah, yang lama terlumat tanah.
Dan inilah saatnya, bergandeng tangan, merajut kesetiakawanan sosial, membantu sesama, meringankan beban berat duafa.
Kedermawanan atau yang lebih tren dengan kata filantropi merupakan salah satu perintah Allah terhadap umatnya.
Dalam Al-Qur’an, kedermawanan tersubtitusikan dengan kata amal saleh yang statusnya sejajar dengan salat maupun jihad.
Dalam kehidupan, amal saleh ini terjewantahkan dalam bentuk zakat, infak dan sedekah.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
