Lawan Pandemi dengan Protein Hewani

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

3 April 2020 06:01 WIB
Perspektif | Rilis ID
Chairul Rahman Arif, Mahasiswa Peternakan Universitas Lampung; Pemimpin Umum UKPM Teknokra
Rilis ID
Chairul Rahman Arif, Mahasiswa Peternakan Universitas Lampung; Pemimpin Umum UKPM Teknokra

Permasalahanya adalah saat ini konsumsi protein hewani Indonesia tergolong rendah.

Menurut data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) 2018, Indonesia rata-rata mengonsumsi 1,8 kilogram (kg) untuk daging sapi, 7 kg daging ayam, 2,3 kg daging babi, dan 0,4 kg daging kambing.

Hal ini terpaut cukup jauh jika dibanding konsumsi rata-rata dunia yang mencapai 6,4 kg daging sapi, 14 kg daging ayam, 12,2 daging babi, dan 1,7 kg daging kambing.

Dari data yang sama, rata-rata konsumsi di Malaysia sebanyak 4,8 kg daging sapi, 46 kg daging ayam, 2,6 daging babi, dan 1 kg daging kambing.

Sementara Filipina mencapai 3,1 kg daging sapi, 12,6 kg daging ayam, 15,4 kg daging babi, dan 0,5 kg daging kambing.

Thailand angka konsumsinya mencapai 1,7 kg daging sapi, 14,5 daging ayam, dan 10,4 daging babi.

Sedangkan Vietnam tingkat konsumsinya 9,9 kg daging sapi, 13 kg daging ayam, 30,4 kg daging babi dan 1,7 kg daging kambing.

Data Food and Agriculture Organization (FAO) 2018, menunjukan total konsumsi protein hewani Indonesia masih rendah dari negara-negara tetangga.

Konsumsi protein hewani Indonesia baru mencapai 8 persen. Sementara, Malaysia 30 persen, Thailand 24 persen, dan Filipina 21 persen.

Jika bicara masalah kematian akibat Covid-19, di Indonesia menunjukan angka yang cukup tinggi.

Menampilkan halaman 2 dari 3

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: gueade
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya