Kebangkitan dan Krisis Imaji Kebangsaan
lampung@rilis.id
Bandarlampung
Selalu muncul pertanyaan, apakah ada perbedaan antara hari ini dengan tahun 1908 lalu? Bedanya (barangkali), jika dulu bangsa kita dijajah asing secara terang-terangan, sekarang dijajah secara samar-samar.
Banyak putra-putri bangsa yang memiliki reputasi baik namun tidak memiliki tempat untuk bekerja di negeri sendiri karena terkalahkan oleh tenaga kerja asing, yang dengan mudahnya masuk ke Indonesia untuk mendapatkan lapangan pekerjaan.
Ini terjadi karena pemahaman akan nasionalisme dan bela negara serta cinta tanah air para penyelenggara negara sudah memudar. Sejarah bangsa yang seharusnya dapat menjadi pedoman dalam meneruskan perjuangan para pendahulu telah ditinggalkan, sehingga nasib anak negeri pun terabaikan. Sungguh ironis dan menyedihkan.
Seyogyanya semangat kebangkitan nasional ini secara terus menerus digelorakan dalam rangka memberikan pemahaman bagi bangsa ini untuk meneladani semangat dan patriotisme para pendahulunya.
Jujur harus diakui bahwa pasca bergulirnya reformasi, banyak agenda yang bertujuan untuk menanamkan kesadaran bagi masyarakat terhadap bela negara dan cinta tanah air semakin memudar, bahkan nyaris punah.
Peringatan hari-hari besar Nasional terasa hambar dan hanya sebatas seremoni, termasuk peringatan hari Kebangkitan Nasional pada hari ini. Akibatnya, banyak para remaja usia sekolah di tingkat lanjutan atas maupun mahasiswa perguruan tinggi yang tidak mampu menjelaskan tentang sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.
Sementara elemen kepemudaan lebih asyik bermain dengan ranah politik dan melupakan kewajiban yang mestinya dilakukan dalam rangka pembinaan dan pengembangan kaum generasi muda. Untuk hal yang satu ini, rasanya tidak salah jika kita mengadopsi program yang pernah dilakukan pemerintahan Orde Baru seperti pendidikan bela negara bagi generasi muda, termasuk penataran pedoman dan penghayatan Pancasila atau P4 serta kegiatan positif lainnya.
Tidak semua peninggalan Orde Baru haram untuk diteruskan, sepanjang hal tersebut bernilai positif bagi kebaikan dan keutuhan bangsa ini ke depan. Bila tidak, maka potret pemuda dari waktu ke waktu akan semakin buram dan tentu saja berdampak pada kualitas para calon pemimpin di masa datang.
Benar bahwa pemuda merupakan ahli waris pemimpin di masa depan, tapi perlu di ingat bahwa para pemuda pun punya kewajiban untuk membuat warisan bagi generasi berikutnya. Jangan sampai pada saatnya nanti tidak mampu menjawab ketika ada yang bertanya tentang apa yang akan Anda wariskan kepada generasi berikutnya.
Karena pada kenyataannya hari ini para pemuda tidak berbuat apa-apa, kecuali untuk diri sendiri. Jangan sampai kaum muda lupa ke-Indonesiaan-nya, kehilangan rasa bela negara dan cinta negaranya, yang semua itu merupakan modal maha dahsyat dalam mewujudkan kebangkitan secara nasional. Ayo bangkit bersama, kobarkan kembali semangat juang Boedi Oetomo!!! (*)
Boedi Oetomo
Hari Kebangkitan Nasional
20 Mei
Krisis Kebangsaan
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
