Jejak Sujud sang Kiai dan Kehati-hatian
lampung@rilis.id
Pesawaran
Lamunan saya bergerak cepat kepada cerita para salik yang secara ketat mendapat pendampingan mursyid menjalankan lelaku dan tirakat demi mengenyam halawatul iman, manisnya iman.
Tak hanya thaharah yang diperhatikan secara serius, bahkan setiap suap makanan, teguk minuman yang akan lewat tenggorokan, setiap kata yang ke luar dari lisan, bahkan setiap prasangka yang bersumber dari hati pun tak luput dari perhatian. Disortir secara ketat.
Sering sekali mendengar cerita tentang mereka yang selalu menerima peringatan lewat firasat dan mata batin ketika hendak mengkonsumsi makanan yang belum jelas kehalalannya. Bukan hanya mensortir dari yang haram, bahkan juga dari yang syubhat.
Subhanallah… Mohon ampunan-Mu dari segala perasaan lebih baik dan menganggap remeh orang lain. Bagaimana mungkin gegabah merasa demikian? Jangankan mensortir makanan dan minuman yang hendak dikonsumsi, bahkan mensortir praktik wudu yang sempurna pun saya abai sekian lama.
Wangi sajadah bekas sujud sang kiai melemparkan saya ke kesadaran paling sublim tentang betapa pentingnya kehati-hatian. (*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
