Jejak Sujud sang Kiai dan Kehati-hatian
lampung@rilis.id
Pesawaran
Betapa setelah sekian lama, bertahun-tahun bahkan sejak saya menempati rumah ini tak pernah terpikir sedikitpun tentang masalah berwudu di kamar mandi. Tentang risiko kesucian dari residu najis yang sangat mungkin terciprat mengingat kran tersebut menyatu dengan area mandi.
Lebih sepuluh tahun tak sadar merelakan diri bersahabat dengan risiko tak sempurnanya wudu karena abai memperhatikan hal-hal sepele. Bagaimana hendak menikmati khusyuknya salat jika detail prasyaratnya luput tak mendapat perhatian?
Teringat nenek di kampung yang semasa hidupnya dikenal sebagai pembuat ragi. Aneka bahan telah secara cermat ia persiapkan. Beras, bawang putih, bawang merah, kayu manis, lombok, lengkuas juga tebu yang selalu diambil dari belakang rumah dicek satu persatu.
Dan yang tak kalah pentingnya, ada beberapa pantangan yang mendapat perhatian serius. Tak boleh dilanggar. Sekali dilanggar, taruhannya ragi buatannya terancam gagal. Bantat.
Saya masih ingat, salah satu pantangan tersebut adalah tangan tidak boleh ”henil” (bahasa Lampung dialek api), semacam bau yang disebabkan bekas memegang ikan atau daging.
Demi kualitas ragi yang paten, demi keyakinan pembuat tapai agar menghasilkan citra rasa yang maknyus, demi kepuasan para penikmat tapai, dan tentu demi nama besar nenek saya sebagai pembuat ragi legendaris, sedari awal hal-hal kecil telah mendapat perhatian ketat dan serius sebagai bentuk quality assurance.
Kenapa demi salat yang khusyuk, persoalan besar tentang kesempurnaan thaharah atau bersuci luput dari perhatian?
Kok bisa?
Kok sampai sekian lama?
Seketika saya merasa malu kepada Wak Dulhalim dan Ustaz Agus, guru ngaji saya semasa kecil dan semua ustaz yang pernah mengajarkan fikih. Padahal bab pertama yang diajarkan adalah bab thaharah. Tentang bersuci.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
