Inflasi: Siasat dan Strategi Politik Anggaran Lampung
lampung@rilis.id
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — PERGERAKAN ekonomi global yang tentu berdampak terhadap ekonomi nasional dan pada gilirannya ekonomi Lampung, nampaknya ada pada tataran yang tidak terlalu menggembirakan.
Bahkan bila kurang cermat menyiasatinya akan berdampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi, yang berimbas pada ekonomi masyarakat.
Hal ini disebabkan melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia sebagai dampak Covid-19 yang belum sepenuhnya pulih dan bangkit.
Kemudian dipicu oleh konflik Rusia dengan Ukraina yang menyebabkan tingginya nilai inflasi mata uang banyak negara di dunia.
Inflasi di Indonesia relatif rendah yaitu sebesar 4,35 persen dibanding negara lain, Turki (78,62 %), AS (9,1 %), Zona Euro (8,6 %), India (7,01 %), Korea Selatan (6 %), Perancis (5,8 %), China (2,5 %), dan Arab Saudi (2,3 %). Dan, angka ini sewaktu-waktu masih dapat berubah.
Lonjakan angka-angka inflasi secara global tersebut juga dipertegas oleh Presiden Jokowi dihadapan forum Silatnas Purnawirawan Angkatan Darat baru-baru ini.
Ia menceritakan baru saja bertemu dengan pimpinan negara G 20, IMF, dan negara-negara donor, dan mengabarkan bahwa situasi ekonomi dunia tahun 2022 akan sulit.
Bahkan tahun 2023 akan gelap. Hal ini menambah keyakinan kita, bahwa situasi ekonomi global sedang memasuki krisis ekonomi secara global.
Sebagai konsekuensinya, Indonesia harus mengikuti pergaulan globalisasi. Sebab, sebagaimana negara-negara lain di dunia, Indonesia juga dipastikan akan terdampak krisis ekonomi.
Untuk menyelamatkan beban anggaran pada APBN, pemerintah pun mengurangi pemberian subsidi dengan menaikkan harga BBM. Ini juga akan memicu kenaikan inflasi di Indonesia.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
