Guru Millenial, Gurunya Zaman Digital

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

20 Desember 2019 23:45 WIB
Perspektif | Rilis ID
Oleh: Laksmi Holifah
Rilis ID
Oleh: Laksmi Holifah

RILISID, — "Melestarikan budaya sulit, tapi bukan berarti tidak bisa,”

Quote itu saya anggap bukan sekadar kalimat biasa. Yang keluar dari pikiran saya.

Kenapa?

Sebab, itu terucap penuh makna. Keluar setelah proses panjang. Ketika saya menghadapi puncak peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2019 Kementerian Agama. Yang dilaksanakan di Bandarlampung. Pada 23 November 2019. Tepatnya di ballroom Hotel Novotel Lampung.

Kala itu, saya mengalami proses panjang. Penuh perjuangan. Selama 20 hari, saya bersama 19 orang lainnya berusaha belajar menari. Untuk tampil di acara puncak HGN Kemenag tersebut.

Beruntung kami didampingi mentor yang sabar. Juga gigih. Yang berusaha mengenalkan, mengajak dengan hati, agar kami mampu menari dengan hati yang tulus. Ketika kami menampilkan Tari Bedana Klasik. Salah satu tarian khas budaya Lampung. 

Awalnya banyak yang pesimistis. Tentu termasuk saya. Sebab, kebanyakan dari kami bukanlah guru seni. Apalagi berlatar belakang penari.

Kala itu, kami seperti slogan SPBU: mulai dari nol.

Secara pribadi, itulah kali pertama saya menari Tari Bedana Klasik. Yang saya nilai sulit dan mustahil bisa saya lakukan. Terlebih saya juga bukan suku Lampung.

Namun, proses kedekatan hati tercipta dari rangkaian pertemuan. Mentor elegan membuat hati tergugah. Bukan sekadar melatih gerak, tapi lebih pada mendekatkan hati.

Menampilkan halaman 1 dari 3
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya