Catatan di Hari Kunjung Perpustakaan
lampung@rilis.id
Waykanan
RILISID, Waykanan
— PERPUSTAKAAN tanpa adanya pembaca, ibarat tubuh tanpa nyawa. Perpustakaan yang hidup adalah perpustakaan yang memberikan interaksi antara pembaca (pemustaka) dengan sumber informasi melalui buku-buku yang dibaca. Dengan demikian semakin banyak kunjungan orang yang membaca buku, maka menjadi tolak ukur bahwa sebuah perpustakaan telah berhasil melakukan peran dan fungsinya dalam membangun peradaban.
Namun mari kita lihat realita di lapangan, banyak perpustakaan baik itu perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan komunitas, perpustakaan sekolah dan perpustakaan manapun saat ini seperti mati suri. Padahal petugasnya ada, anggaran operasionalnya juga baik-baik saja. Bahkan di beberapa tempat malah ada pembangunan fisik gedung perpustakaan dengan jumlah dana yang ‘wah’.
Sepengamatan saya, belakangan ini kecil sekali aktivitas kunjungan pemustaka yang sengaja datang ke perpustakaan. Faktornya banyak sekali. Di antaranya yakni minimnya konten perpustakaan yang itu-itu saja. Hanya berisi deretan buku yang disusun rapi pada display dan rak-rak besi.
Pengelolaan yang standar dan pasif juga turut mempengaruhi minat masyarakat untuk datang berkunjung ke perpustakaan. Masyarakat kita kini cenderung tertarik dengan hal-hal yang ‘out of the box’, tertarik pada hal-hal yang bersifat kebaruan serta di luar kelaziman pada umumnya.
Coba saja di perpustakaan disediakan kafe plus cemilan gratis, pasti banyak yang berkunjung. Atau coba saja perpustakaan mendesain konsep alam dalam tata ruang yang sejuk, nyaman dan asri dengan dilengkapi sarana wifi. Pasti banyak sekali yang akan berkunjung. Lembaga atau pengelola perpustakaan memang harus dituntut kreatif dan inovatif di tengah perkembangan teknologi.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa di era digitalisasi mudah sekali mengakses bahan bacaan. Tidak harus melalui buku fisik tapi bisa juga melalui e-book. Membaca buku tidak perlu susah-susah datang ke perpustakaan, sambil tidur di kamar pun bisa membaca di ponsel android, gadget, laptop dan lainnya.
Efisiensi dan kemudahan membaca buku yang ditawarkan oleh berbagai perangkat teknologi ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi perpustakaan. Jika pengelolaannya tidak aktif, kreatif dan inovatif, seiring berjalannya waktu maka perpustakaan hanya akan menjadi kuburan buku. Apalagi ditambah situasi pandemi Covid-19 yang membuat ruang gerak serba terbatas.
Perpustakaan dalam amanat Undang-Undang No. 43 tahun 2007 tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar atau tempat membaca buku saja, tapi juga sebagai wahana rekreasi.
Fungsi rekreasi yaitu fungsi perpustakaan sebagai tempat yang menghibur bagi pemustakanya. Secara alamiah jika seseorang merasa terhibur, maka minatnya akan kuat untuk berulangkali merasakan kesenangan dari hiburan yang diperolehnya.
Lalu, bagaimanakah agar masyarakat pemustaka merasa senang dan merasa rekreasi di perpustakaan? Tentu metode dan cara yang digunakan oleh pengelola perpustakaan beragam dan bervariasi. Salah satunya bisa dengan menghadirkan musik dalam suasana membaca. Musik di sini bukanlah musik full audio yang bergema di ruangan yang justru malah menghilangkan esensi dasar perpustakaan, namun musik yang digunakan adalah musik klasik yang didengar melalui perangkat headset, sehingga suasana perpustakaan tetap nyaman dan aman.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
