Brigadir Joshua
Juan Situmeang
Mesuji
Namun sayang, yang terjadi tidak demikian. Sehingga bola salju ini menggelinding semakin besar. Jika tidak segera diselesaikan maka akan berdampak pada tingkat kepercayaan masyarakat kepada institusi Polri.
Ketiga, dari autopsi ulang kali ini akhirnya almarhum Brigadir Joshua mendapatkan apa yang harusnya diterimanya. Penghormatan. Dengan dimakamkan ulang dengan upacara militer. Apa yang harusnya ia dapatkan sebagai Bhayangkara Negara yang tewas dengan cara yang mengenaskan.
Melihat adegan saat jenazah akan dibawa ke dalam ambulans, di mana satu regu polisi berpakaian lengkap berbaret dan memakai sarung tangan menggangkat peti jenazah dengan langkah tegap.
Kemudian tiga prajurit berjalan didepan peti, dua mengusung karangan bunga dan satu membawa foto. Lalu, melewati satu regu dengan senjata lengkap yang langsung memberi hormat senjata.
Begitu juga saat di pemakaman. Sebelum dimasukkan kembali ke dalam liang lahat, digelar upacara militer dan tembakan salvo begitu hikmat sebagai penghormatan terakhir kepada almarhum.
Terakhir, bendera merah putih yang menutup peti diserahkan pemimpin upacara militer ke ayah almarhum Brigadir Joshua.
Memang sampai saat ini kita belum mengetahui secuil pun kejadian sebenarnya yang terjadi di rumah Irjen Ferdi Sambo. Apakah memang karena pelecehan seksual atau ada hal lainnya. Yang pasti Brigadir Joshua sudah mengalami peristiwa tragis yang merenggut nyawanya.
Namun, kita juga melihat meski ‘bintang-bintang’ menenggelamkan sedemikan rupa sampai liang lahat, langit berkehendak lain.
Ia sang brigadir muda, tetap harus keluar dari liang lahatnya. Untuk bersaksi dan menerima penghormatan yang selayaknya ia terima.
Selamat jalan Brigadir, semoga damai sejahtera dan kasih Tuhan mendekapmu. (*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
