Bom Waktu Pasca Penghitungan Suara Pilpres
Sulaiman
Bandarlampung
Selain itu, statement Presiden Joko Widodo yang menyebutkan bahwa Presiden boleh berkampanye dan mendukung Paslon Presiden.
Membuat bola api itu semakin besar dan bahkan berkobar. Gelombang protes dan kritikan mulai bergemuruh di media sosial bahkan di media massa.
Sikap keberpihakan Presiden Jokowi terhadap Paslon tertentu, dinilai telah mencederai makna demokrasi dan terkesan memaparkan arti nepotisme secara gamblang.
Sebab, diakui atau tidak. Presiden Jokowi tentu akan berpihak kepada anaknya Gibran Rakabuming Raka, yang kini menjadi Cawapres dari Paslon 02, berpasangan dengan Prabowo Subianto yang juga Menteri Pertahanan.
Puncaknya, pelanggaran etika dan keberpihakan kepala negara, memunculkan kritik keras dari para akademisi di berbagai Universitas di Indonesia.
Sampai saat ini, sedikitnya 30 Perguruan Tinggi di Indonesia telah menyampaikan kritik dan keresahan dengan kondisi politik saat ini.
Saya khawatir, dengan munculnya seruan protes dan kritikan dari para akademisi di Indonesia ini, dapat menjadi legitimasi bahwa pelanggaran ini benar-benar terjadi.
Bahkan bisa saja, gelombang protes ini melegitimasi bahwa adanya kecurangan dalam kontestasi Pilpres 2024.
Dan tidak menuntut kemungkinan, rangkaian protes ini menjadi bom waktu yang akan meledak setelah hasil penghitungan suara pada Pilpres mendatang.
Karena, tentu ini akan menjadi senjata bagi calon atau tim yang kalah, apabila pasangan 02 Prabowo-Gibran menang telak dan pilpres berjalan satu putaran.
Bom waktu
Pilpres 2024
Kritik Akademisi
Opini
Presiden Jokowi
Prabowo Gibran
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
