Kenduri Sumatera, Sastrawan Lampung Isbedy Luncurkan Sehimpun Puisi Bencana
Gueade
Bandar Lampung
“Saya tertantang, apalagi saya sudah mengoleksi puluhan puisi. Lalu saya fokus saja ke bencana,” ungkapnya.
Buku setebal 60 halaman itu juga disertai kata pembuka. Dalam pengantar, ia mengatakan bahwa lewat sejumlah puisi dalam buku tipis ini, sebagai penyair saya telah “bersaksi”. Bahwa ada duka lara di Sumatera, tangis Sumatera.
“Bencana tersebut yang selayaknya tercatat sebagai bencana Nasional. Maka puisi-puisi di dalam buku ini adalah ekspresi sekaligus juga kesaksian saya atas bencana Sumatera. Seumpama saya bercerita tentang Sumatera. Sekaligus bertahlil,” ujar Isbedy.
Dalam hal judul buku ini, lanjutnya, dia menggunakan kata “Kenduri” diambil dari judul puisi, sedangkan “Sumatera” dipetik dari puisi berjudul “Peta Sumatera”.
Kenduri, masih kata Isbedy yang bersamaan menerbitkan kumpulan esai Noel di Jalan Whoosh, dan Catatan Lain (2026) ini, jika merujuk KBBI artinya perjamuan makan untuk memperingati peristiwa, meminta berkah, atau selamatan. Kerap melibatkan doa bersama dengan mengundang tetangga.
“Intinya dalam kenduri; doa keselamatan, juga sering untuk doa pada tujuh hari meninggalnya kerabat/keluarga,” imbuhnya.
Isbedy juga mengatakan, puisi tentang bencana di Sumatera juga masuk dalam antologi bersama Air Mata Sumatera terbitan Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang yang akan diluncurkan pada 20 Januari 2026.
“Saya juga diundang untuk baca puisi. Saat ini sedang cari dana, siapa tahu ada yang bisa membantu,” ucapnya.
Pada peluncuran buku tersebut, katanya lagi, ada penggalan dana. Hasil dari penjualan buku dan penggalan dana diperuntukkan korban bencana. (*)
Kenduri Sumatera
Isbedy
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
