Kasus Kekerasan di SMA Global Madani, Keluarga Korban Kecewa, Kasus Bergulir di Kepolisian

Tampan Fernando

Tampan Fernando

Bandar Lampung

19 September 2025 07:00 WIB
Hukum | Rilis ID
Ilustrasi kasus bullying di sekolah. Foto: ist
Rilis ID
Ilustrasi kasus bullying di sekolah. Foto: ist

Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh orang tua korban, RH. Ia menegaskan klarifikasi dari pihak sekolah terkesan tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta yang dialami anaknya.

“Surat sanggahan dari pihak sekolah seolah-olah menunjukkan bahwa mereka telah maksimal memediasi. Padahal kenyataannya, kami memang menolak mediasi karena ini bukan kejadian pertama,” ujar RH.

RH menjelaskan bahwa sebelumnya anaknya juga pernah menjadi korban kekerasan dari siswa lain di sekolah yang sama. Dalam insiden terdahulu, MS mengalami luka di lengan akibat terkena cutter dan harus menerima tujuh jahitan. Kejadian itu disebut terjadi karena bercanda.

Karena ingin menjaga proses belajar anak dan kasihan terhadap pelaku yang masih teman sekelas, pihak keluarga saat itu bersedia berdamai tanpa tuntutan setelah dilakukan mediasi oleh pihak sekolah. Namun, menurut RH, respons sekolah setelah kejadian tidak mencerminkan perlindungan terhadap korban.

Terkait insiden terbaru, RH menuturkan bahwa MS kembali menjadi korban kekerasan fisik oleh kakak kelasnya. Tindakan yang dilakukan menurutnya sudah tergolong serius.

“Perut ditonjok, paha kiri ditendang, dan pipi sebelah kiri ditampar. Ini sudah bukan lagi bercandaan anak-anak. Ini tindakan kekerasan seperti orang dewasa,” tegas RH, seraya menyebut putranya mengalami sakit fisik dan trauma.

Akibat kejadian kedua ini, pihak keluarga meminta agar pelaku dikeluarkan dari sekolah. Namun, permintaan tersebut tidak dikabulkan. Sekolah hanya memberikan sanksi berupa “Sudden Death”, yakni pelaku akan dikeluarkan jika mengulangi pelanggaran, tanpa ada konfirmasi awal dengan pihak keluarga korban sebelum rencana mediasi.

“Kami sangat kecewa karena anak kami yang menjadi korban malah terkesan tidak mendapat perlindungan dan pembelaan. Kami justru melihat sekolah melindungi pelaku dengan memberikan sanksi ringan,” ungkap RH.

Akhirnya, pihak keluarga memutuskan mengeluarkan MS dari SMA Global Madani karena merasa tidak nyaman serta kecewa. Mereka juga melanjutkan proses hukum dengan melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian.

“Kami melihat rilis yang dikeluarkan pihak sekolah terkesan cuci tangan dari masalah yang dialami anak kami. Mereka hanya ingin melakukan mediasi tanpa mengambil tindakan tegas,” pungkas RH.

Menampilkan halaman 2 dari 3

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Tampan Fernando
Tag :

bullying

Global Madani

Polsek Kedaton

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya