Konsumsi Meningkat, Surplus Beras Lampung Turun 7,38 Persen dalam 5 Tahun
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Peningkatan konsumsi ini sejalan dengan pertumbuhan populasi serta perubahan pola konsumsi masyarakat.
Apabila tren ini terus berlanjut, tekanan terhadap surplus beras akan semakin besar, yang dapat berimplikasi pada ketahanan pangan dan stabilitas harga di pasar lokal.
“Oleh karena itu, selain meningkatkan produksi, perlu ada kebijakan untuk diversifikasi pangan guna mengurangi ketergantungan pada beras serta memperkuat cadangan pangan daerah sebagai langkah antisipatif terhadap potensi defisit di masa depan,” ujarnya.
Dengan kondisi surplus yang terus menyempit dan konsumsi yang meningkat, strategi ketahanan pangan Lampung perlu mencakup aspek produksi, distribusi, dan konsumsi secara seimbang.
DJPb Lampung menyebut Pemda perlu memastikan rantai distribusi beras tetap efisien agar harga tetap stabil dan pasokan dalam provinsi terjamin.
Selain itu, penguatan kapasitas penggilingan padi di Lampung menjadi krusial untuk mengurangi ketergantungan pada daerah lain dalam proses pascapanen.
“Dengan kebijakan yang terintegrasi dan berbasis data, Lampung diharapkan dapat terus mempertahankan statusnya sebagai salah satu lumbung pangan nasional sambil memastikan ketahanan pangan masyarakatnya tetap kuat,” ujar M Dody.
Beberapa kabupaten tetap menjadi penopang utama produksi, sementara daerah perkotaan seperti Bandar Lampung dan Metro terus mengalami defisit beras yang signifikan.
Kabupaten Lampung Tengah, Tulang Bawang, dan Lampung Timur merupakan daerah dengan surplus beras tertinggi di Lampung.
Lampung Tengah secara konsisten mencatat surplus di atas 160.000 ton per tahun, menjadikannya sebagai daerah penghasil utama yang berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan Lampung.
panen padi
sawah Lampung
petani Lampung
beras Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
