Konsumsi Meningkat, Surplus Beras Lampung Turun 7,38 Persen dalam 5 Tahun
Tampan Fernando
Bandar Lampung
RILISID, Bandar Lampung — Ketahanan beras di Lampung masih terjaga dengan adanya surplus beras rata-rata 724.884 ton per tahun selama periode 2020–2024.
Namun, tren menunjukkan surplus ini semakin menurun dalam lima tahun terakhir, dari 767.043 ton pada 2020 menjadi 710.401 ton pada 2024, atau menyusut sebesar 7,38 persen.
Penyusutan surplus ini mengindikasikan pertumbuhan konsumsi beras lebih cepat dibandingkan pertumbuhan produksi.
Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan Provinsi Lampung mencatat rata-rata sekitar 52,65 persen dari total produksi beras di Lampung dikonsumsi secara domestik, sementara sisanya didistribusikan ke berbagai provinsi lain.
Sehingga ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada produksi tetapi juga efisiensi distribusi dan stabilitas pasokan dalam provinsi.
Secara keseluruhan, produksi padi dan beras di Lampung mengalami pertumbuhan dalam lima tahun terakhir, meskipun dengan laju yang relatif rendah.
Produksi padi meningkat sebesar 3,00 persen, dari 2.650.291 ton pada 2020 menjadi 2.729.903 ton pada 2024. Sementara produksi beras juga naik 3,00 persen dari 1.523.525 ton menjadi 1.569.291 ton dalam periode yang sama.
Pertumbuhan ini menunjukkan adanya perbaikan dalam produktivitas pertanian, meskipun masih terdapat tantangan dalam mempertahankan laju pertumbuhan yang lebih tinggi.
“Peningkatan produksi ini perlu ditunjang dengan kebijakan yang mendorong efisiensi pertanian, seperti modernisasi alat produksi, penggunaan varietas unggul, serta optimalisasi penggunaan lahan pertanian yang semakin terbatas,” kata Kepala DJPb Lampung, M Dody Fachrudin dalam keterangannya, Senin (10/3/2025).
Di sisi lain, konsumsi beras di Lampung mengalami peningkatan yang lebih pesat dibandingkan produksi, naik sebesar 13,54 persen dalam lima tahun terakhir, dari 756.482 ton pada 2020 menjadi 858.890 ton pada 2024.
panen padi
sawah Lampung
petani Lampung
beras Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
