Kemitraan SGC dan Petani Tebu demi Membangun Kesejahteraan Bersama
lampung@rilis.id
Tulangbawang Barat
RILISID, Tulangbawang Barat — Program kemitraan tebu rakyat yang dijalankan oleh SGC (Sugar Group Company) memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani tebu dan memperkuat ketahanan pangan nasional melalui produksi gula lokal yang berdaya saing.
Kemitraan tebu rakyat bukan hanya soal menanam, tapi juga memanen masa depan. Lewat skema kolaborasi strategis antara petani dan SGC kini kesejahteraan petani tebu akan kian manis terasa.
Program ini akan sukses meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui produksi gula lokal yang berdaya saing.
“Program kemitraan tebu rakyat akan membuktikan bahwa sinergi adalah kunci kesuksesan. Petani mendapatkan bibit unggul, bimbingan teknis, dan jaminan harga yang adil dari SGC,” jelas Manager Plantation, Sulis Prapto, di Kampus Politeknik Tunas Garuda, Komplek Uluan Nughik Panaragan Jaya, Rabu (3/9/2025).
Menurutnya, dengan implementasi yang baik dan pengawasan yang efektif, program ini dapat menjadi contoh sukses bagi kemitraan lainnya di sektor pertanian. Kunci utama kesuksesan program ini adalah komitmen dari semua pihak yang terlibat dan keberlanjutan program dalam jangka panjang.
Program ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani tebu dan memperkuat ketahanan pangan nasional melalui produksi gula lokal yang berdaya saing.
Ia menjelaskan kemitraan dijalankan dengan sistem mandiri, di mana petani tetap mengelola lahannya mulai dari pengolahan tanah, penanaman, hingga panen. Sementara itu, perusahaan bertanggung jawab membeli hasil panen sesuai standar kualitas.
“Prinsipnya saling menguntungkan. Petani mendapatkan jaminan harga dan pasar, sementara perusahaan memperoleh pasokan tebu berkualitas,” katanya.
Ia menambahkan, tebu memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan singkong. Selain mudah dibudidayakan dan tahan hama, iklim Lampung dinilai sangat cocok sehingga produktivitas lebih terjamin. “Tanam sekali bisa panen hingga 3-4 kali dengan biaya perawatan murah. Lampung adalah sentra gula, maka jangan lewatkan peluang ini,” ujarnya.
Dalam kemitraan ini, tebu yang dipasok harus memenuhi standar mutu: berumur 11–13 bulan, segar, tidak dibakar, serta memiliki kadar puriti minimal 74 persen. Produk yang tidak sesuai standar dapat dipotong harganya bahkan ditolak. Program berlaku selama 10 tahun atau 10 kali giling, dengan syarat lahan jelas statusnya dan bebas sengketa.
Kemitraan SGC dan Petani Tebu
Kesejahteraan Bersama
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
