Rupiah Melemah, Intip juga Pelemahan di Negara Lain
Ainul Ghurri
Jakarta
RILISID, Jakarta — Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Doddy Zulferdi menyebutkan, dibandingkan beberapa negara yang terdampak penguatan dolar AS, pelemahan nilai tukar rupiah masih termasuk rendah atau minim.
"Rupiah memang sedikit melemah, namun dibanding dengan negara high yield country (negara dengan imbal balik tinggi), pelemahan rupiah ini masih cukup minim dan lebih terjaga," tuturnya di Press Room BI Jakarta, Rabu (14/3/2018).
Beberapa negara yang menjadi pembanding rupiah tersebut yakni, Rusia dengan mata uang rubel, Brazil dengan real nya dan Turki adalah lira. Berdasarkan pantauan BI, nilai tukar rubel Rusia tercatat melemah 0,49 persen, Turki 0,32 persen dan Brazil mengalami pelemahan 0,28 persen.
Namun, Doddy mengatakan, jika rupiah dibandingkan mata uang rand Afrika Selatan (Afsel), maka pelemahan rupiah masih lebih tinggi. BI melaporkan, per Rabu (14/3) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 0,27 persen, sedangkan rand Afsel hanya melemah 0,17 persen.
Doddy memastikan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak bakal mencapai Rp15.000 per dolar AS. Bahkan, kata Doddy, rupiah bakal sulit untuk sampai ke level tersebut. Apalagi, dalam pergerakan kurs rupiah, BI akan terus melakukan pengawasan dan menjaganya berada di level sesuai fundamentalnya.
"Level itu (Rp15.000 per dolar AS) semacam psikologis, seperti kalau orang stress test. Berapapun yang muncul, secara fundamental tidak akan terjadi, karena komitmen BI untuk memastikan fundamental tetap terjaga," urainya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
