Perusahaan Swasta Kembangkan Sorgum Rakitan Balitbangtan di Lahan 150 Ribu Hektare

Elvi R

Elvi R

Jakarta

22 Desember 2019 16:02 WIB
Bisnis | Rilis ID
FOTO: Humas Balitbangtan
Rilis ID
FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Perusahaan benih pertanian dan perkebunan, PT Agro Indah Permata (AIP) 21 turut mengembangkan Sorgum Bioguma yang merupakan varietas unggul rakitan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan).

Dalam pengembangannya, perusahaan tersebut manggandeng Paya Pinang Group yang sedang menjalankan progam peremajaan sawit rakyat (PSR) di Perkebunan Pinang Raya, Kecamatan Tebing Syahbandar, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara (Sumut).

Panen perdana sorgum ini telah dilakukan pada Kamis, 19 Desember 2019 di hamparan seluas 34,5 hektar. Panen tersebut dihadiri oleh Kementerian Pertanian, pemerintah provinsi dan kabupaten, sejumlah perusahaan swasta serta warga dan para petani.

Menurut Direktur Operasional AIP 21, Kandar Sumardi, total lahan yang disiapkan untuk pengembangan sorgum di Sumut mencapai 150 ribu hektar. Dengan adanya pengembangan sorgum ini, diharapkan kebutuhan benih di Pulau Sumatera dapat terpenuhi.

"Potensi lahan di Sumut luas, namun untuk mendapatkan benih sorgum masih ada hambatan transportasi (karena dikirim dari Jawa) sehingga kita adakan perbanyakan di sini sebagai sentral benih untuk wilayah Sumatera," ungkap Kandar.

Lebih lanjut Kandar menjelaskan bahwa sorgum bioguma layak disebarluaskan karena memiliki beberapa keunggulan dibanding sorgum pada umumnya, diaantaranya produktivitas biji rata-rata 7 ton per hektare dan biomassa batang 44-55 ton per hektare.

Selain di Sumut, pihaknya juga mengembangkan komoditas ini di sembilan provinsi lain yakni Aceh, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Barat.

Sementara itu Presiden Direktur Paya Pinang Group, Kacuk Sumarto menjelaskan, pemanfaatan sorgum ini merupakan jawaban atas pertanyaan petani mengenai nasib mereka saat sawit yang baru ditanam belum produktif. Dengan adanya sorgum ini diharapkan para petani tetap mendapatkan penghasilan dan kehidupannya tetap terjamin.

"Sorgum ini memiliki periode yang pendek yakni empat bulan. Bedanya dengan jagung, sorgum dalam satu kali tanam dapat panen untuk tiga kali panen. Ini akan memberikan kemudahan bagi para petani peserta peremajaan sawit," ungkap Sumarto.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya