Optimalkan Penyerapan Gabah, Pj Sergab Pati Gelar Rakor

Default Avatar

Anonymous

Pati

13 Februari 2018 16:41 WIB
Bisnis | Rilis ID
Rapat Koordinasi (Rakor) Serap Gabah Karesidenan Pati di Pati, Jawa Tengah, Selasa (13/2/2018). FOTO: RILIS.ID/Fatah H Sidik
Rilis ID
Rapat Koordinasi (Rakor) Serap Gabah Karesidenan Pati di Pati, Jawa Tengah, Selasa (13/2/2018). FOTO: RILIS.ID/Fatah H Sidik

RILISID, Pati — Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Serap Gabah Karesidenan Pati di Pati, Jawa Tengah, Selasa (13/2/2018). Rakor dipimpin Penanggung Jawab (Pj) Sergab Pati, Prihasto Setyanto.

Katanya, rakor tersebut tak lepas dari penugasan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, kepadanya, beberapa waktu lalu. Tujuannya, mengoptimalkan penyerapan gabah petani agar 'pahlawan pangan' mendapatkan harga layak, khususnya di wilayah Pati. Begitu pun harga beras di tingkat konsumen, tetap terkendali.

"Ternyata, eksekusi tidak sesederhana yang kita lihat di atas kertas. Banyak hal-hal teknis yang harus ditindaklanjuti," ujarnya sela rapat yang dihadiri sejumlah pejabat-pejabat TNI AD, Badan Urusan Logistik Subdivisi Regional (Bulog Subdivre) II, Bank Rakyat Indonesia (BRI), dinas terkait di lingkungan Karesidenan Pati serta Dinas Ketahanan Pangan Jateng.

Anton, sapaannya, lantas menceritakan pengalaman sergap baru-baru ini. Target yang dicanangkan lima kali lipat dari penugasan awal, yakni 200 ton di tiap wilayah di Jateng tak terealisasi. "Alhamdulillah, pada satu hari itu walau tidak tercapai 1.000 ton, kita bisa 633 ton," katanya.

Selain mencari solusi atas kendala-kendala sergap, rakor bertujuan menangkal impor. Sebab, salah satu indikator impor dilakukan kala stok beras di gudang Bulog di bawah 1,1 hingga 1,2 juta ton beras.

"Sekarang yang tercatat di bawah 800 ribu ton. Ini buat suasana perberasan agak kacau," terang Direktur Sayuran dan Tanaman Obat (STO) Direktorat Jenderal Hortikultura itu. Harapan lainnya, pemerintah melalui Bulog bergerak lebih cepat dalam membeli gabah petani dibanding tengkulak.

Anton lantas memberikan satu solusi kepada Bintara Pembina Desa (Babinsa), pelaksana teknis di lapangan, agar mengadopsi pola yang dipakai Ditjen Hortikultura dalam mengendalikan harga cabai dan bawang merah. Petani binaan Ditjen Hortikultura alias champion diberikan pemahaman, agar bersedia menjual produknya dengan murah ketika harga melambung tinggi.

"Kita gerakan supaya mereka bisa membantu pemeritah dalam rangka stabilisasi hrga, kalau terjadi gejolak di pasar. Jadi, mereka berkomitmen," jelasnya. Para champion bersedia menjual murah, karena memahami adanya bantuan pemerintah Rp30 juta per hektare untuk cabai dan bawang merah Rp40 juta per hektare untuk berusaha.

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Elvi R
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya