Melihat Aeromodeling Karya Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia
lampung@rilis.id
Bandarlampung
Penggunaannya yang luas tentunya diiringi dengan kemajuan dan perkembangan sistem kendali otomatis pada pesawat, sehingga pilot hanya perlu menginput data posisi dimana pesawat harus terbang dan pesawat akan terbang mengikuti jalur tanpa harus dikendalikan secara langsung.
Oleh pilot, teknologi ini dikenal sebagai drone (Pesawat tanpa awak). Perlu diketahui bahwa drone tidak hanya terbatas pada kendaraan pesawat terbang saja misalnya helikopter, kapal laut, kapal selam, mobil dan lain-lain.
Peminat aeromodelling yang ingin memulai kegiatan ini dapat mengunjungi atau menghubungi asosiasi aeromodelling setempat atau terdekat untuk mendapatkan informasi dan bimbingan teknis.
Selain itu juga dapat diperoleh melalui massa baik cetak maupun elektronik tentang kedirgantaraan pada umumnya dan aeromodelling pada khususnya.
Di Indonesia sendiri memiliki komunitas salah satunya yang bernama "Komunitas Aeromodeling Indonesia (KAI) " yang memiki tujuan untuk mewadahi temen temen penghobby Aeromodeling Indonesia yang berdiri sejak tahun 2015 . Dalam komunitas itu sendiri kami sering sering (Berbagi ilmu) seputar aeromodeling.
Pesawat Aeromodelling sendiri memiliki 2 tipe yaitu lane of site (LOST sejauh mata memandang) dan FPV (first-person view) , Untuk jarak penerbangan pesawat Aeromodeling tipe lane of site yaitu 500-1000m dan untuk tipe FPV bisa sampe berkilo-kilo meter sesuai yang kita butuhkan dengan tambahan elektronik yang lebih bagus, dan untuk ketinggian sendiri yaitu maksimal 120m . Untuk harga sendiri yang paling umum penghobby aeromodeling 2 juta untuk tipe yang standar dengan lebar 100-150 cm. (*)
Hobi Aeromodeling Karya Mahasiswa
UTI
Universitas Teknokrat Indonesia
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
