Kementan Bangun Kejayaan Baru Dewi Sri Papua di Sarmi
Elvi R
Jakarta
RILISID, Jakarta — "Sarmi, Si Kota Ombak". Begitulah orang mengenal kota kecil yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik ini. Asal usul nama Sarmi ini berasal dari singkatan 5 nama suku terbesar di daerah ini yakni suku Sobey, Armati, Rumbuai, Manirem, dan Isirawa.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua tahun ini memiliki kegiatan perbenihan kelapa dalam di Sarmi. Kepala BPTP Balitbangtan Papua, Dr. Ir. Muhammad Thamrin, M.Si selaku penggungjawab UPSUS Papua sekaligus berkesempatan untuk melakukan survei potensi LTT Upsus Pajale dan koordinasi program strategis Kementerian Pertanian lainnya.
Kunjungan pada 6-8 April 2019 ini menjadi kunjungan pertama Kepala BPTP Papua sampai di Sarmi Kota, Distrik Sarmi Kab. Sarmi. Saat ini akses jalan sudah lebih bagus. Kepala BPTP di tahun-tahun sebelumnya hanya bisa sampai di Distrik Bonggo karena untuk menuju Sarmi Kota belum ada akses jalan yang memadai. Bahkan di tahun lampau, di beberapa titik mobil harus menggunakan perahu karena harus melewati sungai besar yang jembatannya belum rampung dikerjakan.
Memang Sarmi selain terkenal sebagai kota ombak juga biasa disebut kota seribu jembatan karena untuk menuju Sarmi harus melalui jembatan-jembatan dari yang kecil sampai jembatan besar karena banyaknya sungai, kali, selokan dan jalur air sepanjang perjalanan Jayapura - Sarmi. Perjalanan yang ditempuh cukup panjang (>300 kilometer) dengan estimasi waktu tempuh 6-8 jam. Sampai di Kota Sarmi, Thamrin bersama Tim disambut dengan ramah oleh Kepala Dinas Pertanian Sarmi, Lukas Jakarimilena, SP. bahkan diajak menikmati hidangan laut khas Sarmi, ikan tenggiri dan udang.
"Sarmi, Raja Kelapa Papua"
Sarmi menyimpan potensi besar dari komoditas kelapa. Sarmi adalah penghasil kopra paling besar di Papua. Di daerah ini terdapat sekitar 50 ribu hektar lahan kelapa yang ada sejak zaman belanda. Pohon-pohon kelapa dibiarkan tumbuh tak terawat. Kelapa-kelapa yang tua kemudian runtuh dan tumbuh lagi. Akhirnya daerah ini menjadi hutan kelapa yang sangat padat dengan jarak tanam yang tidak beraturan.
BPTP Balitbangtan Papua mencoba mendukung potensi ini dengan melakukan kegiatan perbenihan kelapa pada tahun ini. Bekerjasama dengan Dinas, BPTP berkomitmen untuk mendistribusikan sebanyak 2.500 bibit yang akan dibagikan kepada masyarakat yang terdaftar sebagai CPCL Dinas secara gratis. Terdapat dua BPT (Blok Penghasil Tinggi) Kelapa Sarmi yakni di Kampung Anus dan Podena Distrik Bonggo. Pohon induk terpilih (PIT) untuk kegiatan perbenihan terdapat 300 pohon yang telah tersertifikasi. Penanggungjawab kegiatan, Ghalih Dominanto, MP berharap melalui peremajaan tanaman kelapa dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas kelapa Sarmi.
"Sarmi dan UPSUS Pajale"
Berbicara program Upaya Khusus Swasembada Padi, Jagung, Kedelai (UPSUS Pajale) yang digalakkan Kementerian Pertanian (Kementan), Papua menyimpan potensi besar sebagai provinsi terluas di Indonesia. Dalam beberapa kesempatan, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, selalu menyebut Papua sebagai masa depan pertanian Indonesia.
Berada di daerah terluar, di ujung timur Indonesia Papua memiliki Merauke yang menjadi penyuplai pangan hampir seluruh provinsi Papua bahkan hingga Papua Barat. Namun letak geografis yang terbentang jauh antara Merauke di selatan dan Jayapura di utara mendorong untuk dibangunkan sentra padi di wilayah utara provinsi Papua.
Sebagai penyangga ibukota Jayapura, dan bersama Keerom menjadi satu-satunya kabupaten yang sudah bisa dilewati jalur darat, Sarmi perlu didorong sebagai penyuplai pangan ibu kota Papua. Jika masa depan pertanian Indonesia ada di Papua, maka masa depan pertanian Papua membutuhkan Sarmi.
Berangkat dari hal tersebut, Sarmi dengan luas wilayah mencapai 17.740 kilometer persegi masih menyimpan potensi lahan yang luas, namun sampai dengan saat ini luas lahan baku areal pertanian Sarmi hanya 224 hektare dengan mayoritas lahan merupakan lahan tadah hujan sehingga tidak semua lahan digarap maksimal oleh petani karena ketiadaan air. Petani hanya mengandalkan air hujan maupun sumur-sumur kecil sekitar lahan. Di beberapa tempat, lahan baku ini bahkan telah menjadi range peternakan sapi.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
