Impor Beras Jadi Pertentangan, Mendag Bela Diri
Anonymous
RILISID, — RILIS.ID, Jakarta— Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita memastikan, kebijakan impor beras tidak akan menyentuh dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kebijakan ini, sepenuhnya akan dijalankan oleh PT PPI (Perusahaan Perdagangan Indonesia).
"Jadi dananya tidak pakai APBN. PPI akan menjadi pintu, sehingga kita bisa mengatur supaya mereka (PPI dan negara impor) bermitra. Supaya distribusinya mereka pakai down liner dalam pendistribusiannya. Itu mekanismenya," kata Enggar di Kantor Kemendag Jakarta, Jumat (12/1/2018).
Terkait berapa harga impor beras, Mendag menyerahkannya pada PPI. Meski begitu, jumlah atau banyaknya beras sudah ditentukan oleh Kementerian.
"Harganya biar mereka (PPI) yang atur. Tapi jumlahnya sudah saya ikat, karena di sana dimainkan harganya langsung. Jadi sekali lagi, saya ingin menyentuh sebagai WNI, jangan beri keuntungan kepada pihak lain, karena kalau itu dihembuskan mereka (negara tempat impor) akan naikkan itu harga. Kita akan impor 500 ribu ton beras dan akan masuk bulan ini," pinta Enggar.
Enggar menegaskan, kebijakan mengimpor beras, dilakukan untuk mengisi stok yang saat ini sudah mulai berkurang. Hal ini dilakukan hingga musim panen raya. Sementara, PPI diminta untuk melakukan penetrasi, agar harga beras impor tetap bisa dikendalikan.
Terkait dengan hasil panen raya, Enggar sudah mewajibkan Badan Usaha Logistik (Bulog) untuk langsung membelinya kepada petani. Bulog juga diminta menyesuaikan dengan ketentuan dan harga acuan yang sudah ditetapkan.
"Jadi sekali lagi, saya tidak mau membela diri. Jangan ini dipertentangkan lagi, seolah impor akan memiskinkan petani. Petani tetaplah konsumen juga," ujarnya.
Ia menjelaskan, karena kurangnya stok beras, petani turut mengurangi konsumsinya. Banyak di antara petani yang semula
mengkonsumsi 5 kilogram (kg) per hari, menjadi 3 kg karena faktor kelangkaan.
"Apakah kita biarkan? Di kampung saya, bahkan banyak orang makan nasi aking. Saya melakukan impor untuk mengisi pasar. Keberpihakan saya pada produk dalam negeri sangat kuat. Jadi, pada saat kami memerlukan, maka kita melakukan impor. Impor bukan sesuatu yang tabu, dalam perdagangan kita impor dan ekspor itu hal biasa," tutupnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
