2018 Indonesia Krisis? Ini kata Aviliani
Nailin In Saroh
Jakarta
RILISID, Jakarta — Ekonom Aviliani mengatakan, pelemahan rupiah di 2018 tidak bisa dijadikan sebagai tanda-tanda krisis seperti yang terjadi di 1998. Meskipun, depresiasi nilai tukar rupiah masih akan berlangsung lama.
Menurutnya, meski ciri rupiah melemah, namun tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebab, kondisi ini terjadi hampir seluruh kawasan di dunia sebagai masa transisi pertumbuhan ekonomi.
"2018 cirinya rupiah melemah. Kenapa? Pertumbuhan ekonomi negara maju dipatok 1,8 persen, sedangkan negara berkembang sudah 4,5 persen. Artinya kita harus mulai sadar bahwa negara berkembang akan jadi sumber ekonomi baru jangka menengah panjang," ujar Aviliani saat diskusi di Bursa Efek Indonesia, Rabu (7/3/2018).
Dia menuturkan, pada siklus ekonomi global saat ini, tren demand di negara maju sedang turun. Sehingga, untuk memenuhi demand yang turun 50 persen itu agak sulit karena butuh demografi baru.
"Demand yang turun berasal dari negara maju. Dengan turunnya demand 50 persen maka likuiditas dunia naik. Karena orang mau invest tapinya ngapain demand-nya saja turun. Nah, likuiditas yang besarnya itu masuk ke negara-negara lain. Sehingga nilai tukar tidak hanya di Indonesia, tapi hampir semua kawasan alami volatilitas yang tinggi," jelas Aviliani.
Meski demikian, kondisi ini memungkin untuk melanjutkan depresiasi mata uang global. "Kita harus tau volatilitas belum akan berakhir, ini masih cukup panjang. Karena, ketika uang masuk sini kita menguat tapi begitu uangnya pindah ke negara lain turun lagi. Kita menguat, disana melemah. Kita melemah disana menguat," katanya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
