Youth Dialogue Unila: Ken Setiawan Ungkap Cara Kelompok Radikal Menjerat Anak Muda
Tampan Fernando
Bandar Lampung
RILISID, Bandar Lampung — Universitas Lampung bersama Lamban Puan dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Indonesia menggelar kegiatan Youth Dialogue Lintas Komunitas bertajuk “Suara Muda untuk Kota Damai” di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung, Kamis (12/3/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Community Action Grant for Youth, Peace and Security (YPS) yang mendorong keterlibatan generasi muda dalam membangun perdamaian serta menjaga keamanan sosial di tengah masyarakat.
Ketua pelaksana kegiatan, Intan Rahma, mengatakan dialog ini menjadi ruang pertemuan bagi pemuda lintas komunitas di Bandar Lampung untuk berdiskusi, bertukar gagasan, sekaligus merumuskan aspirasi bersama terkait upaya menciptakan kota yang damai dan inklusif.
Acara yang dimoderatori Wulan Suryaningsih tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Ken Setiawan, mantan aktivis radikal yang kini menjabat Kepala Bidang Pemuda dan Pendidikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung, serta Drs. Ikram, dosen Sosiologi FISIP Universitas Lampung.
Dalam pemaparannya, Ken Setiawan mengungkap sejumlah pola penyebaran paham radikal yang kerap menyasar generasi muda, salah satunya melalui manipulasi konsep keagamaan.
Menurutnya, konsep-konsep seperti iman, ibadah, hingga zakat sering dipelintir untuk membangun militansi kelompok serta memperkuat loyalitas terhadap jaringan tertentu.
“Konsep yang sering dipakai kelompok radikal adalah jika tidak punya musuh maka mereka akan menciptakan musuh. Loyalitas terhadap kelompok disebut sebagai pembelaan agama, sementara orang di luar kelompok dianggap sebagai lawan,” kata Ken.
Ia juga mencontohkan kasus seorang mahasiswa yang berniat menyumbangkan Rp300 juta kepada jaringan tertentu dengan dalih infaq. Uang tersebut didapat dengan membohongi orang tuanya dengan alasan untuk biaya kuliah, padahal mahasiswa tersebut telah dikeluarkan dari kampus karena merekrut teman-temannya untuk bergabung dalam kelompok radikal.
Kasus lain yang ia ungkap adalah seorang pemuda yang menggunakan uang pengobatan orang tuanya sebesar Rp50 juta untuk disetorkan kepada kelompok tersebut. Akibatnya, orang tuanya tidak mendapatkan perawatan hingga akhirnya meninggal dunia.
Menurut Ken, pemahaman keagamaan yang kaku tanpa disertai literasi kritis dapat memicu munculnya sikap intoleran terhadap kelompok lain.
Terorisme
Ken Setiawan
BNPT
FK PT Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
