Usulkan Filsafat Jadi Pelajaran di Sekolah dan Pesantren, Ken Setiawan: Indonesia Darurat Literasi
Tampan Fernando
Bandar Lampung
“Filsafat bukan hanya mencetak murid, tapi juga mencetak manusia berpikir. Ia melatih anak untuk tidak menerima informasi secara pasif, melainkan mempertanyakan, menganalisis, dan mengevaluasi sebelum menyebarkannya kepada orang lain,” tegasnya.
Ken juga menjelaskan enam tahapan berpikir filsafat dalam pendidikan: menghafal, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan inovasi.
Sayangnya, menurut dia, pendidikan di Indonesia masih terjebak pada tahap pertama—menghafal.
Sebagai contoh, Ken menyinggung penafsiran sempit terhadap ayat kitab suci yang melarang berteman dengan orang kafir.
“Anak-anak lalu melarang dirinya berteman dengan sahabat yang beda agama. Padahal, itu hasil pemahaman yang terputus karena hanya berhenti di tahap hafalan,” jelasnya.
Ia juga menilai banyak orang tua sudah merasa bangga jika anak hafal kitab suci, seakan-akan itu jaminan masuk surga. Padahal, hafalan hanyalah pintu awal.
“Tugas selanjutnya adalah memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga menciptakan inovasi,” katanya.
Ken yakin, memasukkan filsafat dalam kurikulum pendidikan akan memberikan manfaat besar.
Selain mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan logis, juga membentuk karakter moral yang kuat, meningkatkan empati, kreativitas, serta mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.
“Indonesia saat ini darurat literasi. Filsafat bisa menjadi jawaban agar dunia pendidikan kita tidak hanya melahirkan penghafal, tetapi juga manusia yang mampu berpikir,” pungkas Ken. (*)
Ken Setiawan
pelajaran filsafat
melawan radikalisme
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
