UIN RIL Siap Terapkan Kurikulum Berbasis Cinta
Fi fita
Lampung utara
Ketiga, dimensi penghayatan atau spiritual, yakni sejauh mana seseorang benar-benar menginternalisasi apa yang ia ketahui.
Keempat, dimensi peribadatan, yang tampak dari pelaksanaan shalat, zakat, dan ibadah lainnya.
Kelima, dimensi pengamalan, yakni perilaku sehari-hari yang mencerminkan dirinya sebagai seorang yang beragama.
“Sayangnya, guru agama saat ini umumnya hanya menyentuh tiga dimensi, sementara dimensi penghayatan sering kali tidak tersentuh,” ujar Prof. Nyayu.
Karena itu, menurutnya, KBC merupakan sesuatu yang sangat urgen untuk disampaikan.
Menurutnya, keberhasilan KBC tidak hanya ditentukan oleh guru agama, tetapi juga seluruh warga madrasah.
Kepala sekolah, guru mata pelajaran lain, hingga tenaga kependidikan seperti penjaga sekolah dan petugas kebersihan, semuanya memiliki peran.
“KBC tidak dimaksudkan mengganti kurikulum nasional, melainkan mengisi ruang kosong dalam aspek emosional. Guru yang baik adalah yang memperlakukan peserta didik layaknya anaknya sendiri, penuh empati, toleran, inklusif, dan penuh kasih sayang,” pungkasnya.
Menurutnya, indikator keberhasilan KBC bukan diukur dari nilai akademik, melainkan dari tiga ciri utama, yaitu terwujudnya madrasah ramah lingkungan, madrasah ramah anak, serta terciptanya kesejahteraan siswa, baik secara mental maupun spiritual.
“KBC adalah cita-cita besar. Inisiasi ini lahir dari cinta Menteri Agama untuk anak-anak Indonesia, disusun dengan cinta, dan semoga diimplementasikan dengan cinta pula,” tuturnya.
Uin ril
universitas islam negeri lampung
mahaiswa uin ril
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
