Terpapar Intoleransi dan Radikalisme, Ken Setiawan: Akibat Fanatisme dan Taklid Buta
Tampan Fernando
Bandar Lampung
“Kisah-kisah seperti perjanjian Najran, Mukhairiq — seorang Yahudi yang membela Nabi Muhammad, atau piagam Madinah jarang dibuka. Akhirnya umat hanya mengenal Islam versi hitam-putih, bukan Islam yang damai dan penuh diplomasi,” jelasnya.
Ken menilai, kondisi itu membuat umat Islam di Indonesia, meski mayoritas, sering kali belum mampu menghadirkan wajah Islam rahmatan lil alamin.
Buktinya, penolakan pembangunan rumah ibadah maupun pelarangan aktivitas keagamaan masih kerap terjadi.
NII Crisis Center sendiri, lanjut Ken, menerima banyak laporan dari orang tua korban radikalisme.
Mereka menyebut kasus tersebut sebagai tragedi kemanusiaan atas nama agama.
“Korban dihancurkan ekonominya karena dipaksa terus berinfak, akhlak dan akidahnya rusak karena semua orang tiba-tiba dikafirkan, termasuk orang tua. Masa depannya pun hancur karena harus berhenti sekolah, kuliah, atau kerja demi kelompok,” ungkapnya.
Dampaknya, bukan hanya pelaku yang dirugikan, melainkan juga keluarga, sekolah, kampus, hingga tempat kerja. Sebab, orang yang sudah terpapar biasanya akan berusaha merekrut orang-orang terdekatnya.
“Efek psikologisnya bahkan lebih parah dari narkoba. Mereka merasa paling benar dan paling beriman. Mereka tidak akan berubah sebelum ada ideologi baru yang bisa memberi perbandingan pemahaman lebih baik,” jelas Ken.
Di akhir acara, Ken membagikan buku Tuhan Kita Sama kepada peserta terpilih, serta e-book gratis bagi seluruh peserta.
“Silakan dibagikan seluas-luasnya agar semakin banyak orang membaca, sehingga kita bisa hidup rukun, aman, dan damai meski berbeda latar belakang,” tutupnya. (*)
Ken Setiawan
paham Radikal
terorisme
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
