Isi Seminar Pendidikan, Ken Setiawan Peringatkan Sekolah: Radikalisme Masuk Lewat Gadget
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Ken menjelaskan saat ini kelompok radikal menyasar perempuan, anak-anak, dan remaja.
Karena itu, ia menekankan pentingnya edukasi dan sosialisasi bahaya intoleransi serta radikalisme di lingkungan sekolah.
“Orang tua juga harus berperan aktif mengawasi aktivitas anak-anaknya di dunia maya agar tidak terpapar ideologi berbahaya,” imbaunya.
Ken menambahkan, belakangan ini Densus 88 telah menangkap sejumlah jaringan teroris yang melibatkan remaja bahkan anak-anak di berbagai daerah.
Ada pula kasus aparatur sipil negara (ASN) yang terlibat dalam jaringan teror, termasuk di Kemenag dan Dinas Pariwisata Aceh.
"Virus radikalisme dan terorisme itu seperti COVID-19, bisa menimpa siapa saja. Bahkan ada pelajar SMP yang diamankan karena sudah siap melakukan aksi peledakan kantor polisi,” ungkapnya.
Kerentanan remaja terhadap paham radikal dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi psikologis, sosial, ekonomi, hingga penggunaan internet yang tidak terkontrol.
Minimnya literasi digital membuat anak-anak mudah terpengaruh oleh tayangan konflik atau narasi hitam-putih yang kerap disebarkan kelompok ekstrem.
Ideologi radikal, kata Ken, seringkali dianggap sebagai jalan pintas untuk mencari jati diri atau menebus rasa bersalah.
“Hari ini ancaman itu ada dalam genggaman gadget. Paham radikalisme kini menyasar generasi muda melalui media sosial, dan ini menjadi tantangan besar bagi kita semua untuk mencegahnya,” tutup Ken. (*)
Ken Setiawan
MKKS SMA Lampung
seminar pendidikan
FKPT Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
