Tumbuhkan Budaya Literasi, Fakultas Adab UIN RIL Gelar The First ICoLIS
Fi fita
Bandarlampung
Selain rendahnya minat membaca dan menulis di kalangan masyarakat saat ini, lanjutnya, globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan terkini telah menciptakan ketimpangan dan gejolak budaya yang menjadi konsumsi sehari-hari.
“Dinamika kehidupan sosial dan budaya yang semakin berkembang, terkadang tidak diikuti dengan literasi dan pengetahuan budaya yang memadai di kalangan masyarakat. Dampaknya adalah berbagai permasalahan terkait buta huruf budaya, gegar budaya atau culture shock hingga terjebak dalam arus informasi menyesatkan yang merambah hampir di seluruh sendi kehidupan masyarakat,” ujar Rektor.
Dalam konferensi internasional tersebut, menghadirkan narasumber luar negeri diantaranya, Prof Dr Aini Maznina Binti A Manaf (International Islamic University of Malaysia), Dr Andrew Demasson (Associate Lecturer in the Information Systems School Faculty of Science at Queensland University of Technology Australia), Assoc Prof Maznah Mohamad (Head of the Department of Malay Studies, Faculty of Art and Social Studies National University of Singapore (NUS).
Selain itu juga menghadirkan narasumber berlatar belakang pustaka yakni Drs Muhammad Syarif Bando MM (Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia), Prof Dr Nurgin Laugu SAg SS MA (Ketua Asosiasi Dosen Ilmu Perpustakaan PTKI), Dr Laksmi SS MA (Dosen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Indonesia), dan Dr Purwanto Putra MHum (Dosen dan Peneliti Universitas Lampung).
Rektor berharap melalui Konferensi Internasional ini dapat memahami peran agama, bahasa, dan sastra dalam budaya literasi dan meningkatkan budaya literasi agama, bahasa dan sastra.
Sehingga, memaknai nilai-nilai keagamaan, kebahasaan, dan sastra dengan kemampuan literasi yang mumpuni dan menghasilkan prosiding internasional dapat terwujud dengan sebaik-baiknya.
Sementara Syarif Bando dalam Keynote Speech-nya menyampaikan, peran perpustakaan sangat diperlukan karena merupakan jantung pendidikan. Dia juga menekankan bahwa dengan membaca dapat mengukur tingkat pengetahuannya yang kita miliki.
“Tidak ada ruginya membaca, karena apa yang kita baca hari ini akan bermanfaat bertahun-tahun seterusnya,” katanya.
Dia juga mendefinisikan literasi sebagai kedalaman pengetahuan seseorang pada satu subjek keilmuan tertentu yang dapat diimplementasikan untuk memproduksi barang dan jasa.
Ada lima tingkatan literasi yang dia jelaskan, yakni:
Uin ril
mahasiswa uin ril
universitas islam negeri lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
