Dibuka Presiden, Rektor Teknokrat Pandu Diskusi Konvensi Kampus XVII dalam Konferensi FRI 2021

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

Bandarlampung

27 Juli 2021 22:39 WIB
Pendidikan | Rilis ID
Rektor UTI HM Nasrullah Yusuf saat memandu diskusi. Foto: Tangkapan layar
Rilis ID
Rektor UTI HM Nasrullah Yusuf saat memandu diskusi. Foto: Tangkapan layar

RILISID, Bandarlampung — Rektor Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) Dr HM Nasrullah Yusuf yang juga Wakil Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) menghadiri Konvensi Kampus XVII dan Temu Tahunan XXIII FRI 2021 secara daring, pada Selasa (27/7/2021).

Acara tersebut dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju turut hadir. Di antaranya Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Menteri Badan Usaha Milik Negara, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

Saat membuka konferensi FRI, Jokowi menegaskan bahwa pandemi Covid-19 juga membuka langkah-langkah inovatif yang bisa dilanjutkan nantinya setelah pandemi usai.

"Kita memang harus berjuang membebaskan rakyat Indonesia dari ancaman Covid-19. Tetapi, masih banyak langkah-langkah inovatif yang muncul karena pandemi ini. Kita harus semakin mengembangkannya. Kita teruskan di pascapandemi nanti,” katanya.

Menurut Presiden, pandemi merupakan rangkaian serial disrupsi dan menambah disrupsi yang sebelumnya dipicu revolusi industri 4.0. Perubahan lanskap sosial budaya, ekonomi, politik, mengalami perubahan besar akibat revolusi industri 4.0. Teknologi cloud computing, internet of things, artificial intelligence, big-data analytics, advanced robotics, hingga virtual reality telah membawa perubahan di semua bidang.

"Kita harus akui bahwa teknologi telah menjadi master disrupsi. Perdagangan telah bergeser menjadi e-commerce. Dunia perbankan telah terdisrupsi oleh hadirnya fintech dan berbagai macam e-payment. Dunia kedokteran dan farmasi semakin terdisrupsi oleh healthtech. Profesional hukum juga mulai diguncang oleh recthtech. Dan dunia pendidikan telah terdisrupsi besar-besaran oleh edutech,” jelasnya.

Terkait hal tersebut, Presiden berpandangan bahwa lembaga pendidikan tinggi mau tidak mau harus memperkuat posisinya sebagai edutech institutions. Menurutnya, teknologi paling dasar adalah pembelajaran memanfaatkan teknologi digital.

Lebih jauh, pembelajaran digital bukan hanya digunakan untuk memfasilitasi pengajaran oleh dosen internal kampus kepada mahasiswa, tetapi juga memfasilitasi mahasiswa untuk belajar kepada siapa pun, di mana pun, dan tentang apa pun. Pembelajaran dari para praktisi, termasuk pelaku industri, sangat penting untuk difasilitasi.

"Kurikulum harus memberikan bobot SKS yang jauh lebih besar bagi mahasiswa untuk belajar dari praktisi dan industri. Eksposur mahasiswa dan dosen kepada industri teknologi masa depan harus ditingkatkan. Pengajar dan mentor dari pelaku industri, magang mahasiswa ke dunia industri, dan bahkan industri sebagai tenant di dalam kampus harus ditambah, termasuk organisasi praktisi lainnya juga harus diajak berkolaborasi,” paparnya.

Kepala Negara juga memandang bahwa lembaga pendidikan tinggi harus bekerja untuk kemanusiaan dan kemajuan bangsa, memecahkan masalah-masalah sosial dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan inovasi secara berkelanjutan.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Segan Simanjuntak
Tag :

Universitas Teknokrat Indonesia

Rektor Teknokrat

HM Nasrullah Yusuf

Konferensi FRI 2021

Presiden

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya