Tentukan Wakil, Rycko Menoza Harus Cermat
Wirahadikusumah
BANDARLAMPUNG
”Itulah alasannya mengapa ia harus mengambil wakil yang sosoknya agamis. Atau dilihar dari latar belakang suku,” papar Budkur.
Pastinya, terus Budkur, agar menang dalam kontestasi pilwakot, Rycko jangan mengambil pasangan yang basis sosialnya sama dengannya.
”Maksud saya seperti sama etnisnya atau sama-sama dari kelompok nasionalis,” saran Budkur lagi.
Ia menyakini, jika itu dilakukan Rycko, maka ada peluang untuknya menang dalam kontestasi pilkada Kota Bandarlampung. Sebab, lawan beratnya yakni Eva Dwiana sudah melakukan hal tersebut.
Menurut dia, kendati berasal dari kalangan nasionalis, Eva sudah membangun jaringan secara agamis. Seperti kalangan ibu-ibu pengajian.
Karenanya, ia menilai langkah Rycko yang belum menentukan wakilnya dalam pilkada kota sudah cukup cermat. Sebab dalam menentukannya memang tidak boleh terburu-buru.
”Sebagai politisi Rycko memang harus berhitung. Tidak boleh terlalu cepat memutusukan. Dia harus melihat spektrum suara mana yang belum tergarap lawannya,” ungkapnya.
Budkur menambahkan, penentuan wakil di akhir-akhir juga tidak akan mempengaruhi perolehan suara Rycko. Sebab, dalam pilkada, mesin yang optimal bekerja adalah tim sukses. Bukan mesin partai.
”Contohnya Anies Baswedan. Kan hanya dua atau tiga hari sebelum pilgub Jakarta, wakilnya baru ditentukan. Akhirnya menang juga. Jadi tak masalah penentuan wakilnya di akhir-akhir. Tapi dengan catatan, jangan ada ’kawin paksa’. Artinya harus dipertimbangkan dengan secermat mungkin,” pungkasnya.(*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
