Suara Swing Voter Disebut Banyak Mengalir ke Prabowo-Sandi
Zulhamdi Yahmin
Jakarta
RILISID, Jakarta — Kepala Litbang Lembaga Survei Pembangunan Indonesia (LSPI), Febra Anugrah, mengatakan, pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno masih sama-sama berpeluang memenangkan Pilpres 2019. Hal itu, menurut Febra, lantaran angka massa mengambang alias swing voter yang mencapai 9,00 persen.
Namun, kata Febra, dari hasil survei LSPI terungkap sebesar 24,65 persen atau sekitar 2,22 persen akan memilih pasangan Prabowo-Sandi. Sedangkan yang akan memilih Jokowi-Ma'ruf sejumlah 22,75 persen atau sebesar 2,05 persen.
"Adapun yang tetap akan menentukan pilihan swing voter lagi sekitar 52,60 persen atau 4,73 persen," kata Febra dalam keterangan tertulisnya, Selasa (26/2/2019).
Dia mengungkapkan, dari tingkat elektabilitas Prabowo-Sandi sebesar 44,14 persen berpotensi bertambah 2,22 persen menjadi 46,36 persen. Sementara Jokowi-Ma'ruf dengan tingkat elektabilitas 46,86 persen, berpotensi bertambah 2,05 persen menjadi 48,91 persen atau selisih 2,55 persen.
"Artinya tingkat elektabilitas Jokowi-Ma'ruf jika dihubungkan dengan keinginan publik melanjutkan dua periode sebesar 46,61 persen plus tambahan swing voter 2,02 persen. Paling tertinggi memperoleh 48,66 persen," ujarnya.
Febra menilai, munculnya swing voter yang mencapai 9,00 persen, karena memang belum mempunyai pilihan. Selain itu, menurutnya, mereka memiliki pilihan tapi masih mempunyai pertimbangan lain.
"Swing voter biasanya baru menentukan pilihan sepekan sebelum hari pencoblosan yang akan berlangsung 17 April 2019," ungkap dia.
Survei LSPI itu sendiri dilakukan dari 14 sampai 20 Februari 2019 secara proporsional di 34 provinsi yang punya hak pilih dalam Pilpres 17 April
2019, yaitu mereka yang telah berusia 17 tahun atau sudah menikah dan terdaftar di KPU sebagai pemilih ketika survei dilakukan.
Selanjutnya random di tingkat kabupaten, kecamatan, kelurahan/desa, kampung/RW/RT, penyebaran wilayah di 50 persen perkotaan dan 50 persen pedesaan.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
