Prabowo Pilih Anies, AHY atau UAS, Ini Risikonya

Budi Prasetyo

Budi Prasetyo

Surabaya

2 Agustus 2018 11:00 WIB
Elektoral | Rilis ID
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma
Rilis ID
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILISID, Surabaya — Tiga nama disebut berpeluang untuk dipilih Prabowo Subianto sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres) di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2109 mendatang. Mereka adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Bawedan, Komandan Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dan Ustaz Abdul Somad.

"Ketiganya memang berpeluang karena punya potensi mendongkrak suara," kata pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Mochtar Oetomo pada Rabu (1/7/2018).

Mochtar mengatakan,  Anies memang berpeluang digandeng Prabowo karena punya elektabilitas tinggi di beberapa survei. Elektabilitas Prabowo diprediksi akan naik ketika berpasangan dengan Anies.

"Dari sisi prospek elektabilitas jelas Anies. Banyak survei sudah membuktikan elektabilitas anies selalu tertinggi dalam bursa cawapres," tambahnya.

Tetapi, tidak masuknya Anies dalam rekomendasi Ijtimak Ulama dikatakan Mochtar sebagai suatu kendala. Bisa jadi, jika dipaksakan akan menjadi bumerang bagi pasangan itu.

"Tapi dia tidak masuk dalam salah satu kandidat yang direkomendasikan Ijtimak Ulama. Sebagian besar ulama alumni 212 berpendapat Anies harus melanjutkan di Jakarta. Kalau hal ini tak terkelola akan menjadi wacana yang kontraproduktif buat Anies dan bisa me-downgrade elektabilitasnya. Pilihan ke Anies strategis tapi juga penuh resiko," katanya.

Sementara itu, AHY juga memiliki keunggulan karena merepresentasikan pemilih pemula.

"AHY bisa mereprentasikan pemilih muda. Elektabilitasnya pun dalam banyak survei bagus selisih tipis dengan Anies," katanya. 

Akan tetapi figur Prabowo yang berlatarbelakang militer,  sama dengan AHY diprediksi akan menjadi anomali. Pasalnya, di penolakan dari sebagaian pemilih di Indonesia terhadap figur militer.

"Tapi jika berpasangan dengan Prabowo akan sama sama militer. Apalagi tidak direkom Ijtimak Ulama. Jika dipaksakan sedikit banyak akan bertentangan dgn mayoritas ulama 212. Ini juga bisa me-downgrade," katanya.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Elvi R
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya