Isu Politik 2019 Harusnya Lebih Bicara soal Program Kerja
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing menilai, harusnya program kerja yang ditawarkan pasangan calon ternyata lebih penting dipertimbangkan.
Sayangnya, sekarang-sekarang ini, publik malah disibukkan dengan isu siapa jadi cawapres menarik untuk Joko Widodo.
"Menjadi persoalan ketika menjadi calon presiden dan pasangannya menjadi sentral, ibarat masinis kereta api atau nakhoda kapal," kata dia di Jakarta pada Sabtu (14/7/2018).
Menurutnya, sistem politik di Indonesia belum matang, sehingga membuat masyarakat lebih fokus pada pasangan calon daripada program-programnya.
Ia mencontohkan Singapura yang politiknya lebih matang tampak dalam pemilihan presiden pada 2017 terpilih, adalah seorang dari minoritas.
"Tapi, memang Pilpres 2019 ini menjadi pembicaraan menarik, karena cawapres akan mendapat karpet merah menuju calon presiden pada tahun 2024," tambah dia.
Terkait dengan hal itu, dia yakin, kini perbincangan dalam parpol sedang intensif dalam menganalisis pasangan calon, baik dari partai maupun bukan partai.
"Bisa partai, bisa bukan partai, siapa pun dengan asumsi menang dan berpeluang dalam capres pada Pilpres 2024. Perbincangan ini jadi menarik," tutur Emrus.
Emrus berpendapat, partai koalisi mempertimbangkan tentang elektabilitas cawapres yang akan berpasangan dengan Jokowi karena berdasarkan survei masih di bawah 50 persen.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
