Ini Saran Pengamat soal Cawagubnya Ridwan Kamil

Sukma Alam

Sukma Alam

4 Desember 2017 08:07 WIB
Elektoral | Rilis ID
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (batik cokelat) saat menerima rekomendasi dari Golkar untuk maju pada Pemilihan Gubernur
Rilis ID
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (batik cokelat) saat menerima rekomendasi dari Golkar untuk maju pada Pemilihan Gubernur

RILISID, — RILIS.ID, Bandung— Pengamat Politik dari Universitas Padjadjaran Firman Manan memberikan saran kepada Bakal Calon Gubernur Jabar Ridwan Kamil (Emil) untuk menentukan pendampingnya. 

Dia menyarankan agar Emil memilih wakilnya yang memiliki pengaruh suara Islam dan mempunyai reputasi baik di pemerintahan.

"Kang Emil membutuhkan sosok wakil yang mampu melengkapi kepemimpinan dirinya. Sebagai pemimpin dengan latar belakang nasionalis dan Kang Emil membutuhkan pendamping yang memiliki kultur keagamaan yang kuat juga harus memiliki pengalaman yang baik di pemerintahan, di samping memiliki popularitas dan elektabilitas yang baik," kata Firman, di Bandung, Minggu (3/12/2017) kemarin.

Menurutnya, Wali Kota Bandung itu harus menggunakan haknya untuk menentukan bakal cawagubnya tanpa harus melalui tahapan konvensi, sebagaimana yang diwacanakannya.

"Saya kira Emil tidak perlu melakukan contest beauty atau konvensi tersebut untuk memilih calon pendampingnya di Pilgub Jawa Barat 2018," tuturnya.

Dia menilai, seharusnya Emil yang saat ini bisa memilih calon wakil gubernurnya sendiri tanpa terpengaruh oleh pihak lain terutama partai politik pengusungnya.

Menurut dia, hal ini sangat penting agar ketika terpilih nanti, pasangan tersebut mampu bekerja dengan baik dan memiliki hubungan emosional yang baik antara satu sama lain.

"Jadi calon gubernur dan wakil gubernur itu harus memiliki kecocokan politik, bukan hanya disepakati partai pengusung," katanya.

Meskipun pasangan tersebut dua-duanya memiliki kualitas yang baik, lanjut dia, jika tidak memiliki hubungan emosional, kinerja keduanya tidak akan baik.

Dia mengatakan selama ini banyak kepala daerah yang 'dikawinkan paksa' oleh partai pengusung. "Ada kesan selama ini yang terjadi dikawinkan paksa. Mereka tidak punya kecocokan politik, itu yang jadi masalah," katanya.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya