ForJatim: Pilkada Bukan Ajang Demokrasi Nepotisme

Budi Prasetyo

Budi Prasetyo

Surabaya

8 Januari 2019 18:31 WIB
Elektoral | Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman
Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILISID, Surabaya — Suksesi kepemimpinan di Kota Surabaya semakin dekat. Agenda demokrasi yang digelar 5 tahun sekali itu menjadi pusat perhatian publik. Sejatinya ada 19 pemilihan kepala daerah (pilkada) yang digelar di Jawa Timur tahun depan. Namun status Kota Surabaya sebagai ibukota provinsi Jatim membuat pilkada di kota pahlawan menjadi magnet yang luar biasa.

Hadi Mulyo Utomo, Ketua Forum Reformasi Jawa Timur (ForJatim) menilai Pilkada Surabaya bukan hnya menjadi perhatian publik di regional Jawa Timur. Tetapi perhatian publik secara nasional. Hal itu tak lepas dari posisi Surabaya sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta. Terlebih Tri Rismaharini wali kota saat ini sudah tidak bisa mencalonkan diri, membuat orang penasaran siapa figur pengganti Risma.

Tak heran belakangan kian banyak spekulasi dan prediksi tentang siapa tokoh atau figur yang akan berkontestasi mencalonkan diri menjadi Walikota dan Wakil Walikota Surabaya. Namun berharap pilkada tidak menjadi ajang demokrasi nepotisme.

"Saya berharap pilkada di 2020 nanti bukan ajang bagi demokrasi nepotisme. Tetapi ajang bagi anak bangsa untuk membangun daerah dengan modal politik, kulitas dan integritas," tegas penasehat hukum Khofifah-Emil pada Pilgub 2018 itu, Selasa (8/1/2018).

Salah satu orang dekat Khofifah ini mengakui, terkait dengan bursa Pilwali Kota Surabaya yang akan digelar pada 2020 tak lepas dari spekulasi dan klaim. Klaim itu menyasar tokoh, elit dan politisi senior. Satu di antaranya Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jatim terpilih periode 2019-2024.

Entah bagaimana kebenaran dan kesahihan dinamika dukungan tersebut. Apakah dukungan tersebut riil atau hanya klaim sepihak dari pihak-pihak tertentu untuk kemanfaatan menaikkan popularitas dan citra positif figur tertentu.

Alumni terbaik Fakultas Hukum pasca sarjana Unair 2012 ini mengungkapkan, terlepas daripada itu semua. Warga Kota Surabaya meyakini bahwa menjadi pemimpin Kota Surabaya tidak bisa dilakukan dengan bermodal siapa lebih dekat dengan siapa,  sehingga dia mendapatkan dukungan dari siapa.

"Surabaya itu kota dengan sederet kemajuan, prestasi, dan nilai strategis. Berikut dengan kompleksitas, problematika perkotaaannya. Karena itu harus dipimpin oleh orang mempunyai kompetensi yang berkualitas dan riwayat kepemimpinan yang sudah teruji. Bukan figur yang hanya mengandalkn nepotisme," ujar Hadi.

Alumni aktivis Pergerakn Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini meyakini warga Surbaya juga pasti berharap tokoh-tokoh senior politik baik kancah nasional atau daerah juga dapat memperkaya wawasan serta melakukan edukasi politik kepada masyarakat Surabaya. Hal itu dalam koridor memberikan kriteria pemimpin yang ideal bagi keberlanjutan roda pemerintahan di Surabaya. Salah satunya integritas moral yg sudah terbukti baik.

"Manifestasi prinsip demokrasi dalam Pilwali Kota Surabaya adalah kemampuan memfilterisasi (menyaring) dan mencetak

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Elvi R
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya