Pendirian Gereja di Bandar Lampung Ditolak, NII Crisis Center Siapkan Tim Khusus untuk Mediasi
Tampan Fernando
Bandar Lampung
RILISID, Bandar Lampung — Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, menyampaikan bahwa pihaknya bersama para eks aktivis radikal NII dan eks narapidana terorisme di Lampung tengah menyiapkan tim khusus untuk menangani kasus penolakan pendirian gereja di Bandar Lampung.
Menurut Ken, Lampung selama ini dikenal sebagai daerah yang toleran. Hal tersebut tercermin dari dinamika masyarakat yang tetap menjaga kerukunan antarumat beragama di tengah keberagaman.
Ia menegaskan tidak ingin muncul insiden intoleransi di Lampung, termasuk penolakan pembangunan rumah ibadah.
Tim khusus yang disiapkan NII Crisis Center, lanjutnya, akan bekerja langsung di lapangan melalui berbagai pendekatan, seperti mediasi, edukasi, serta penguatan nilai-nilai toleransi beragama kepada masyarakat setempat.
Ken juga mengajak semua pihak untuk tidak berasumsi berlebihan terkait penolakan tersebut.
Ia menilai masyarakat di wilayah itu memiliki tingkat pendidikan yang cukup baik, sehingga persoalan ini seharusnya dapat diselesaikan melalui musyawarah dan dialog terbuka.
“Perlu duduk bersama untuk mencari jalan keluar terbaik,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, di lokasi tersebut sebenarnya pernah berdiri gereja sejak 2004, tepatnya di Jalan Turi Raya, Gang Perintis II, Kecamatan Tanjung Senang, Bandar Lampung. Namun, bangunan tersebut sempat dibakar akibat provokasi oknum di masyarakat.
Selain itu, salah satu jemaat yang tinggal di sekitar lokasi juga pernah mengalami tekanan, bahkan sempat dikepung dan diisolasi oleh massa hingga tidak diperbolehkan keluar rumah.
Pada 2014, proses pembangunan kembali sempat diupayakan, namun kembali mendapat penolakan warga hingga berujung aksi demonstrasi.
Ken Setiawan
NII Crisis Center
penolakan gereja
gereja lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
