Sering Gempa, Pemerintah Diminta Membuat Peta Lokasi Rawan dan Berisiko
Budi Prasetyo
Surabaya
RILISID, Surabaya — Pengamat geologi asal Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Profesor Amien Widodo, berharap agar pemerintah membuat peta terdapak gempa untuk mengurangi korban jiwa yang timbul. Langkah itu dilakukan agar masyarakat bisa membuat bangunan yang tahan gempa, jika mereka ada di lokasi rawan.
"Diharapkan pemerintah membuat peta risiko. Mana risiko tinggi, sedang dan rendah," kata Amin pada Selasa (2/10/2018).
Dia mengatakan, suatu wilayah dikatakan mengandung risiko tinggi apabila dilewati patahan atau lempeng dan kondisi tanahnya jelek. Disatu sisi, bangunan yang berdiri di wilayah itu kurang memadai, sehingga ketika terjadi gempa besar kemungkinan mengakibatkan banyak korban jiwa.
"Kalau gempa itu tidak membunuh, yang membunuh itu reruntuhan bangunan. Risiko tinggi kalau di daerah itu tanahnya jelek dan bangunan kualitas jelek. Kalau risiko sedang tanah baik bangunan jelek. Kalau risiko kecil tanah baik dan bangunan baik," katanya lagi.
Amien menjelaskan, aturan bangunan itu harus diterapkan dalam tata ruang sehingga jika terjadi gempa bisa meminimalisir kerusakan bangunan. Dia mencontohkan, gempa di Lombok Nusa Tenggara Barat korbannya besar karena memang bangunan di wilayah itu tidak memadai.
"Muncul peraturan untuk daerah berisiko tinggi harus ada aturan tata ruang. Bangunan tidak memadai. Kalau di Lombok itu karena kurang memadai," pungkasnya.
Seperti diketahui, terjadi lagi bencana alam gempa bumi. Jika sebelumnya di Lombok, kali ini gempa dan tsunami terjadi di Palu dan Donggala. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengungkapkan tinggi tsunami yang menerjang Kota Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9) dilaporkan mencapai enam meter.
"Kami menerima laporan, tsunami di Palu kemarin ternyata ada yang tingginya mencapai enam meter," ujar Sutopo seperti dilansir Antara di Kantor BNPB Jakarta pada Sabtu (29/9/2018).
Sutopo menjelaskan, pihaknya menerima laporan bahwa ketika tsunami terjadi, ada seorang warga yang menyelamatkan diri dengan memanjat pohon setinggi enam meter.
"Ternyata masih kena juga. Kalau data BNPB ini tsunami melanda empat wilayah dan tiap wilayah ketinggian tsunaminya berbeda dengan status waspada dan siaga," kata Sutopo.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
