PSI Sebut Prabowo Lakukan Kebohongan dan Pembodohan soal Ini
Zulhamdi Yahmin
Jakarta
RILISID, Jakarta — Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Raja Juli Antoni, menyebut Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto telah melakukan kebohongan dan pembodohan terhadap masyarakat. Hal itu lantaran pernyataan Prabowo yang menyebut Indonesia tambah miskin dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
"Pak Prabowo bilang kita tambah miskin, ini sebuah kebohongan dan pembodohan yang tidak boleh diteruskan seorang calon presiden di republik ini," kata Toni, sapaan akrabnya, melalui cuitan di akun media sosial Twitter miliknya, @AntoniRaja, Minggu (29/7/2018).
Seorang calon pemimpin, lanjut Toni, mestinya menyampaikan pernyataan selalu berdasarkan data dan fakta. Tapi sebaliknya, ujar dia, Prabowo justru hanya berbicara berdasarkan asumsi dan emosi kekuasaan saja.
Toni menegaskan, angka kemiskinan di Indonesia terus mengalami penurunan sejak masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sesuai dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Bahkan, tegas dia, kemiskinan Indonesia di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk pertama kalinya di angka single digit.
"Di akhir pemerintahan pak SBY (September 2014), angka kemiskinan adalah 10,56. Terus turun secara gradual sampai Maret 2018 angka kemiskinan untuk pertama kalinya single digit 9,82," tegasnya.
Dia menilai, memang menjadi hal wajar ketika masyarakat di Indonesia masih ada yang mengalami kemiskinan. Namun, menurutnya, adalah kebohongan ketika menyebut Indonesia tambah miskin tanpa dengan melihat data sesungguhnya.
"Berhenti meneropong kemiskinan dari atas kuda di Hambalang! Indikator kemiskinan itu disepakati dengan ketat dan konsisten oleh institusi independen. Dari zaman Pak SBY bahkan sebelumnya begitu. Buruk sangka membuat pikiran busuk. Hati penuh fitnah," tandasnya.
Sebelumnya, Ketua Umum Partai GerindraPrabowo Subianto menyebut Indonesia tambah miskin dalam kurun waktu lima tahun terakhir, bahkan mencapai 50 persen. Salah satu penyebabnya, sebut Prabowo, karena mata uang rupiah yang terus anjlok.
"Mata uang kita tambah rusak, tambah lemah. Apa yang terjadi adalah dalam lima tahun terakhir kita tambah miskin, kurang-lebih 50 persen," sebutnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
