Lingkungan Rusak, Masyarakat Mimika Tuntut Freeport Tanggung Jawab 

Default Avatar

Anonymous

Timika

1 Agustus 2018 13:30 WIB
Daerah | Rilis ID
Freeport. FOTO: ptfi.co.id
Rilis ID
Freeport. FOTO: ptfi.co.id

RILISID, Timika — Masyarakat Amungme di Kabupaten Mimika, Papua, menuntut PT Freeport Indonesia bertanggung jawab penuh atas kerusakan lingkungan, mulai dari wilayah pegunungan Tembagapura hingga dataran rendah Mimika.

"Kerusakan lingkungan itu sebagai dampak langsung dari kegiatan pertambangannya selama lebih dari 50 tahun. Pemerintah agar memberi perhatian serius terhadap persoalan lingkungan yang sudah sangat rusak dan membahayakan masa depan generasi Suku Amungme dan Kamoro di Kabupaten Mimika," kata Tokoh Masyarakat Amungme, Mimika, Yopi Kilangin di Timika, Rabu (1/8/2018).

Ia mengatakan, kini kerusakan lingkungan tersebut sebagai dampak dari pembuangan limbah tailing Freeport ke wilayah dataran rendah Mimika.

Kerusakan lingkungan ini, sangat dirasakan oleh masyarakat seperti pendangkalan alur sungai-sungai bahkan hingga ke wilayah pantai Mimika Timur.

Kondisi itu mengakibatkan masyarakat semakin sulit melintas dengan perahu baik untuk bepergian ke kampung-kampung mereka maupun untuk mencari ikan dan habitat sungai lainnya guna menopang kehidupan mereka.

"Sekarang ini masyarakat susah sekali untuk menyeberang di sungai-sungai itu, seperti di Pasir Hitam yang merupakan jalur utama perhubungan masyarakat ke Timika dari Agimuga, Jita, Manasari, Otakwa dan lainnya. Sungai sudah tidak bisa dilintasi oleh perahu masyarakat karena tumpukan pasir tailing yang semakin tinggi. Kami tidak tahu lagi habitat atau ekosistem yang ada di situ. Yang pasti, dampak tailing ini sangat merusak kehidupan masyarakat, terutama masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup di sungai-sungai itu," kata Yopi, putra almarhum Mozes Kilangin, salah satu tokoh yang menandatangani 'Januari Agreement' 1972.

Yopi juga menuntut pihak Freeport untuk memberikan jaminan dan kepastian bahwa alam Mimika yang telah rusak parah itu, kelak masih bisa memberi kehidupan kepada masyarakat setempat yang sudah turun-temurun tinggal dan hidup bergantung pada alam.

"Jaminan itu yang kami minta dari Freeport, bukan hanya sekarang ini tapi untuk seterusnya dan bukan sekedar membuat propaganda-propaganda, tapi benar-benar untuk kelangsungan hidup generasi Amungme-Kamoro di masa depan," tuturnya.

Ia juga meminta pihak Freeport untuk memastikan apakah kondisi air di Timika dan sekitarnya yang setiap hari dikonsumsi masyarakat benar-benar aman ataukah sudah terkontaminasi dengan unsur-unsur kimia yang terbawa bersama material tailing Freeport.

"Kita semua tidak tahu apakah air yang kita minum setiap hari kualitasnya terjamin atau tidak. Siapa yang bisa menjamin itu. Belum lagi hutan-hutan semua sudah habis, gunung-gunung sudah berlubang. Apakah ada jaminan untuk kami bisa hidup, terutama bagi generasi kami ke depan. Pertanyaan-pertannyaan itu terus-menerus menjadi pergumulan kami orang Amungme-Kamoro di Mimika," ujarnya.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya