KLHK: Masih Ada Pendaki yang Terjebak di Rinjani
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut sejumlah pendaki masih ada yang terjebak di jalur pendakian Sembalun dan Batu Ceper di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pascagempa 6,4 skala richter (SR) yang mengguncang Lombok pada Minggu (29/7).
"Untuk evakuasi ada bantuan personil Koppasus 100 orang dan ada heli dari Kodam Udayana untuk dropping logistik pendaki yang terjebak di danau. Selain itu kami juga sudah membuka posko di kantor Balai, sebagai tempat informasi bagi keluarga," kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (30/7/2018).
Ia menginstruksikan jajarannya melakukan prioritas evakuasi bagi seluruh pendaki yang terjebak di TNGR sesaat setelah gempa melanda NTB, pukul 05.47 WIB.
Hingga saat ini upaya evakuasi terus dilakukan dengan melibatkan TNI, BNPB, Polri, Mapala, tim TNGR dan pihak terkait lainnya.
Hingga dini hari Senin, jumlah pendaki TNGR yang diperkirakan naik sesuai daftar pengunjung adalah 820 orang.
Rinciannya yang naik pada Jumat (27/7/2018) sebanyak 448 orang dan Sabtu (28/7/2018) sebanyak 372 orang.
Jumlah ini masih bisa bertambah termasuk porter guide, serta tamu yang naik pada Rabu (25/7/2018) dan Kamis (26/7/2018).
Sementara pengunjung yang sudah terdaftar turun dari TNGR sampai Minggu (29/8/2018) sebanyak 680 orang.
Rencana evakuasi kembali dilanjutkan. Tim dari Balai TNGR akan berangkat melalui jalur Sembalun untuk observasi dan membawa logistik, mereka tim dari Balai TNGR, dan dibantu dari TNI, Polri, tim medis dan Mapala.
"Sesaat setelah bencana, saya koordinasi terus dengan Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem dan Dirjen Pengendalian Perubahan iklim. Bahkan bila perlu helikopter kita dipakai dulu untuk NTB, membantu evakuasi ataupun drop logistik bagi pendaki yang masih terjebak di dalam kawasan," katanya.
Selain itu, lanjut Siti Nurbaya, keluarga besar KLHK juga tengah berduka, karena salah satu putra dari staf Balai Litbang LHK Makassar bernama Muhammad Ainul Takzim, meninggal dunia akibat bencana tersebut.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
