Ini Titah Raja Sekala Brak Lampung terkait Pilpres 2019
Zulhamdi Yahmin
Jakarta
RILISID, Jakarta — Raja Sekala Brak Kepaksian Pernong, Lampung, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23, Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Edward Syah Pernong, meminta kepada semua kelompok kepentingan untuk tidak menjadikan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 sebagai ajang konfrontasi.
Menurutnya, pilpres harus dijadikan sebagai ajang kontestasi untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara yang lebih baik dalam menyongsong masa depan.
"Memang ini medan kompetisi, tapi peperangan ide, peperangan gagasan, peperangan ekspektasi-ekspektasi bangsa ke depan," katanya saat berbincang bersama rilis.id di kawasan Cileungsi, Bogor, Jawa Barat (22/9/2018).
Mantan Kapolda Lampung itu menjelaskan, pilpres adalah sebuah ruang proses demokrasi yang diberikan kepada rakyat untuk menyuarakan hak politiknya.
Para capres-cawapres, menurut dia, tentunya membawa segala inovasi, ide-ide, kreatifitas, pembaharuan dan langkah-langkah transformasi yang akan digulirkan dalam bentuk konsep-konsep dan perencanaan.
"Perencanaan itu dari penangkapan ekspektasi-ekspektasi masyarakat yang diakomodir dan diramu untuk digulirkan dalam bentuk aktualisasi kebijakan. Itu sebenarnya pertarungannya. Jadi pertarungan opini ini benar, tapi jangan yang membuat dia terfragmentasi," ujarnya.
Purnawirawan jenderal polisi ini menilai, kontestasi Pilpres 2019 akan menjadi bahaya bila ada sekelompok kepentingan yang sengaja melakukan fragmentasi politik untuk perpecahan.
Hal itu, lanjut Edward, justru akan membuat bangsa Indonesia terdegradasi di tengah proses membangun masa depan.
"Cost politiknya mahal kalau timbul masalah, karena recovery-nya mahal, kemudian penyembuhan juga susah. Berat lho, enggak bisa dihitung dengan nominal. Terutama cost sosial. Coba bayangkan. Waktu mereka habis tersita hanya untuk meredam friksi-friksi horisontal," paparnya.
Untuk itu, imbau Edward, para pendukung capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, hendaknya menghindari kampanye dengan isu-isu yang sensitif.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
