Duh, Ratusan Hektare Karet di Tubaba Tidak Produktif
Joni Efriadi
Tulangbawang Barat
RILISID, Tulangbawang Barat — Ratusan hektare (ha) perkebunan karet milik masyarakat di Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) dinyatakan tak produktif.
Menurut Kabid Perkebunan, Pertanian, dan Hortikultura Tubaba, Catur Prastiwi, penyebab utama adalah usia yang telah masuk batas maksimal. Sehingga tidak mampu menghasilkan getah karet secara normal.
Meskipun demikian, dia tidak menampik jika luas perkebunan yang saat ini tidak produktif melebihi angka TR (tanaman rusak).
Dia menerangkan TR bukan berarti hanya bagi perkebunan yang masuk dalam kategori itu. Tapi, pada TM (tanaman menghasilkan) juga ada yang termasuk TR jika dilihat dari produksi getahnya.
"Makanya, saya rasa luas perkebunan karet yang tidak produktif lebih dari data yang ada. Apalagi masih sangat banyak petani yang tidak melaporkan kondisi perkebunannya. Makanya kita memaksimalkan peran dari Mantri Perkebunan dan koordinasi dengan BPS," sambungnya.
Ia menjelaskan, selain usia yang telah masuk batas maksimal di atas 25 tahun, faktor lain yang menyebabkan tidak produktifnya karet di kabupaten setempat yakni terkait pemilihan bibit sebelum tanam.
Artinya, kata dia, kemungkinan besar bibit yang ditanam oleh petani memang berkualitas rendah. Sehingga sudah bisa dipastikan berpengaruh besar pada produksi getahnya.
"Sementara yang belum produktif tentu karena usianya yang muda dan masih dalam pertumbuhan, makanya petani pun belum bias menderes," terangnya.
Kemudian, ada beberapa hal yang bisa memperpendek masa atau waktu produktivitas dari karet tersebut. Yakni mulai dari perawatan hingga cara panen getah.
"Kalau pemberian pupuknya tidak rutin dan perkebunan dibiarkan menjadi belukar maka akan merusak batang sehingga dampaknya adalah produksi getah,” paparnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
