Daya Saing Indonesia Masih Rendah, Ini Penyebabnya

Default Avatar

Anonymous

Yogyakarta

2 Juli 2018 15:52 WIB
Nasional | Rilis ID
Pernyataan itu disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma
Rilis ID
Pernyataan itu disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILISID, Yogyakarta — Negara pemenang itu bukan negara dengan jumlah penduduk yang besar dan punya sumber daya besar, tetapi negara pemenang adalah yang mempunyai inovasi.

Pernyataan itu disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat menyampaikan orasi ilmiah dalam peringatan Ulang Tahun ke-30 Prodi MM FEB UGM di Auditorium Sukadji Ranuwihardjo MM FEB UGM Yogyakarta, Senin (2/7/2018).

Nasir mengatakan  indeks daya saing Indonesia masih rendah. Menurut Global Competiveness Index (CGI) 2017 masih berada di peringkat 36 dari 137 negara.

“Singapura di urutan 3, Malaysia nomor 23, sedangkan Thailand di posisi 32. Sementara Indonesia posisi 36 ini mengerikan,” ucapnya seperti ditulis laman UGM.

Rendahnya daya saing bangsa ini, kata dia, salah satunya berasal dari dunia pendidikan tinggi. Kualitas lulusan dan kompetensi yang dihasilkan lebih rendah dibanding negara tetangga.

Selain itu, dalam bidang publikasi ilmiah juga masih rendah. Hingga tahun 2014 jumlah publikasi ilmiah Indonesia baru di angka 4.000, sedangkan Singapura mencapai 19.000 publikasi dan Malayasia sebanyak 28.000 publikasi.

 “Dengan perbaikan sistem, pada tahun 2017 jumlah publikasi Indonesia mencapai 18.500 sehingga di atas Thailand dengan 16.800 publikasi. Dan pada 2018 ini sudah berhasil melampaui Singapura,” ujar Nasir.

Saat ini, jumlah publikasi karya ilmiah di jurnal internasional tertinggi masih ditempati Malaysia. Oleh karena itu, Nasir menargetkan pada 2019 mendatang Indonesia bisa menjadi pemimpin di ASEAN dalam publikasi ilmiah. Impian ini tidak main-main, saat ini pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mewujudkan hal tersebut.

“Mudah-mudahan di 2019 Indonesia bisa menjadi leader di Asia Tenggara,” harapnya.

Langkah-langkah yang ditempuh adalah dengan meningkatkan anggaran bidang riset. Hal ini ditujukan agar bisa mendorong lahirnya publikasi yang semakin berkualitas.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya